Sinopsis Nyata yang Paling Horor: Pena, Gadget, dan Tragedi di NTT

Seringkali kita menonton drama tentang kerasnya hidup di Seoul atau distopia di film Hollywood, tapi kali ini, sebuah ‘sinopsis’ nyata dari NTT menyadarkan kita bahwa horor yang sebenarnya sedang terjadi di depan mata kita sendiri—tanpa naskah, tanpa kamera, tapi dengan akhir yang permanen.

Beberapa hari lalu, sebuah berita dari NTT menghantam wajah kita semua: seorang siswa SD mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Ya, Anda tidak salah baca. Siswa Sekolah Dasar. Di usia di mana seharusnya masalah terbesar kita hanyalah luka di lutut karena jatuh dari pohon, anak ini sudah memutuskan bahwa dunia terlalu mahal untuk ditinggali.

Sebagai manusia yang lahir di tahun 80-an, saya merasa seperti alien yang terdampar di planet asing. Zaman kita dulu, tidak punya pena itu masalah kecil—paling banter kita “numpang” nulis di buku teman atau dihukum berdiri di depan kelas. Malu? Iya. Mati? Nanti dulu. Tapi anak sekarang? Kenapa “pena” bisa menjadi alat yang lebih mematikan daripada belati?

Drama Kehidupan yang Terdistorsi

Jika saya menuliskan ini sebagai sinopsis drama atau film, mungkin para kritikus akan bilang plotnya terlalu dibuat-buat. “Masa cuma karena pena?” Tapi faktanya, layar gadget telah berhasil melakukan satu hal yang gagal dilakukan pendidikan kita: mendramatisasi kemiskinan menjadi kiamat.

Kita hidup di era di mana tontonan benar-benar menjadi tuntunan. Anak-anak kita adalah penonton setia dari “film” kehidupan yang diedit secara sempurna. Mereka melihat pahlawan-pahlawan di layar yang punya segalanya. Lalu, ketika mereka melihat ke bawah, ke tangan mereka yang kosong tanpa pena, mereka merasa gagal menjadi pemeran utama. Mereka tidak tahu bahwa di balik layar, semuanya adalah *settingan*.

Bagi mereka, kematian bukan lagi akhir yang sakral, melainkan sebuah tombol restart atau exit yang sering dipromosikan sebagai solusi heroik dalam konten-konten melankolis.

Guru yang “Bekerja”, Bukan Mendidik

Dulu, guru adalah sutradara yang memperhatikan setiap gerik pemerannya. Kalau ada murid yang lesu, guru tahu itu karena perutnya kosong atau hatinya sedih. Sekarang? Guru lebih mirip operator administrasi. Mereka sibuk mengisi aplikasi, mengejar sertifikasi, dan memastikan laporan kinerja beres.

Murid di pojokan yang sedang mempertimbangkan jalan buntu? Itu bukan bagian dari indikator kinerja utama. “Asal pekerjaan beres, yang penting absen masuk,” begitu mungkin gumamnya. Sekolah berubah dari panggung pembentuk karakter menjadi pabrik robot yang dijalankan oleh operator yang juga kelelahan.

“Double Reduction” Ala China dan Tawar-Menawar Kita

Saya sempat melirik kebijakan China yang memberangus industri bimbingan belajar dan membatasi gadget secara “tangan besi”. Ekstrem? Mungkin. Tapi setidaknya mereka sadar bahwa membiarkan algoritma mendidik anak adalah bentuk bunuh diri massal sebuah bangsa.

Di sini? Ah, kita terlalu banyak “tawar-menawar”. Ada banyak kepentingan yang bermain di balik layar kebijakan. Mengatur gadget berarti mengganggu trafik data; mengatur konten berarti mengganggu industri kreatif. Akhirnya, hukum hanya jadi rem darurat yang berdecit saat kecelakaan sudah terjadi, bukan pagar yang melindungi sejak awal.

Kembali ke Rohani: Solusi Klise yang Terlupakan

Kita sering bilang bahwa agama adalah solusinya. Memang benar. Jalur religi, pondok, dan pemuka agama seharusnya menjadi tempat anak-anak “pulang” saat dunia luar terlalu bising. Tapi mari jujur: anak mana yang mau masuk ke dunia yang mereka anggap kuno dan membosankan, sementara di tangan mereka ada HP yang menawarkan dunia yang jauh lebih gemerlap?

Kita gagal mengemas “rohani” sebagai kekuatan mental. Kita lebih suka menjualnya sebagai hafalan tanpa makna. Padahal, rohani adalah satu-satunya benteng yang bisa membisikkan pada seorang anak bahwa: “Harga dirimu tidak diukur dari seberapa banyak buku di tasmu.”

Penutup: Sebuah Refleksi Pahit

Kejadian di NTT ini adalah sebuah sinopsis film horor nyata. Horornya bukan pada hantu yang melompat dari kegelapan, tapi pada sistem yang membiarkan seorang anak merasa bahwa sebuah pena lebih berharga daripada nyawanya.

Kita, generasi 80-an, mungkin hanya bisa menulis kegelisahan ini di blog. Tapi setidaknya kita sadar: jika negara terlalu sibuk tawar-menawar dan guru terlalu sibuk bekerja, maka kitalah—orang tua dan komunitas—yang harus menjadi sutradara kembali di rumah. Matikan layar itu sesaat, ajak mereka bicara, dan pastikan mereka tahu bahwa hidup mereka jauh lebih berarti daripada sekadar alat tulis.

Jangan sampai tontonan mereka benar-benar menjadi tuntunan jalan pulang yang paling tragis.

Undercover Miss Hong (2026): Sinopsis Lengkap, Jadwal Tayang, dan Daftar PemainHeartstrings (2011): Kisah Cinta Musik Kampus Park Shin Hye & Jung Yong Hwa

Tinggalkan komentar