The Judge Returns Episode 1 langsung membuka cerita dengan nuansa gelap dan penuh ketegangan. Drama hukum ini tidak membuang waktu untuk memperkenalkan konflik besar, karakter abu-abu, serta sistem hukum yang telah busuk dari dalam. Sejak menit awal, penonton sudah diajak masuk ke dunia di mana keadilan bukan lagi soal benar dan salah, melainkan soal kekuasaan dan kepentingan.
Pembukaan Mencekam: Serangan di Tengah Hujan
Episode 1 diawali dengan adegan seorang pria bernama Lee Han-young yang berlari panik di tengah hujan deras. Ia tampak ketakutan, seolah sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak bisa dihindari. Ketegangan memuncak ketika seorang pria bertopeng muncul dan menikam lehernya. Dengan dingin, si penyerang mengatakan bahwa semua ini telah berakhir.
Namun, alih-alih kematian menjadi akhir cerita, drama justru melompat ke tahun 2035, membawa penonton pada akar masalah yang jauh lebih besar.
Kebijakan Kota Seoul dan Tragedi Sosial
Pada tahun 2035, Dewan Kota Seoul mengesahkan ordinansi ke-18, sebuah kebijakan yang diklaim bertujuan memperindah kota dan meningkatkan keamanan publik. Kebijakan ini dikenal sebagai “urban homeless removal system”, sistem penyingkiran tunawisma dari ruang publik.
Para tunawisma dipaksa pindah ke rumah-rumah kosong, area bawah tanah, atau lokasi tersembunyi agar tidak terlihat oleh masyarakat umum. Alih-alih menyelesaikan masalah sosial, kebijakan ini justru memicu lonjakan bunuh diri. Salah satu kasus paling mengguncang adalah kematian satu keluarga beranggotakan tiga orang, yang mengguncang nurani publik Seoul.
S-Group: Wajah Palsu Penegakan Hukum
Di balik kebijakan dan kekacauan ini berdiri S-Group, sebuah konglomerasi yang mengklaim menegakkan keadilan dan menghukum pihak yang bersalah. Namun pada kenyataannya, S-Group adalah simbol korupsi sistemik—mengendalikan hukum demi keuntungan sendiri.
Salah satu konflik utama melibatkan Gojin Chemical, perusahaan yang terlibat dalam kecelakaan industri besar. Insiden ini memicu aksi protes dari masyarakat, terutama para pekerja yang terdampak langsung.
Kasus Gojin Chemical dan Para Korban
Seorang perempuan muda bernama Han Na-young bersama 24 pekerja pabrik Yeoju didiagnosis menderita leukemia akut dan tumor otak. Dari jumlah tersebut, sembilan orang telah meninggal dunia, sebagian besar masih berusia muda. Fakta ini memicu kemarahan publik dan tuntutan keadilan.
Namun, Gojin Chemical memiliki uang dan pengaruh. Mereka menghadirkan “para ahli” untuk memanipulasi fakta dan memutarbalikkan kasus. Semua ini tidak lepas dari peran Go Jin-gyu, pimpinan firma hukum besar yang memiliki koneksi luas, termasuk dengan mertua Lee Han-young dari Firma Hukum Gwangmin.
Hasilnya, pengadilan awalnya memutuskan kemenangan sebagian bagi korban dengan kompensasi “yang dianggap wajar”.
Lee Han-young: Hakim yang Telah Kehilangan Moral
Lee Han-young dikenal sebagai hakim berprestasi. Namun, di balik reputasinya, ia adalah sosok yang korup hingga ke tulang. Ketika masih muda dan belum memiliki apa-apa, ia menikahi putri dari keluarga firma hukum besar, menjadikannya alat kekuasaan bagi keluarga sang istri.
Dalam kasus Gojin Chemical, Han-young secara kejam membatalkan keputusan kompensasi, memutuskan bahwa para korban tidak berhak menerima apa pun. Keputusan ini memicu kekacauan di ruang sidang, teriakan kemarahan, dan air mata. Namun Han-young tetap dingin dan tak bergeming.
Penggerebekan S-Group oleh Kejaksaan
Di sisi lain kota, kejaksaan tengah mempersiapkan serangan besar terhadap S-Group. Kim Jin-ah dan Kang Jae-jin, dua jaksa ambisius, berada di garis depan operasi ini, di bawah pengawasan Kepala Jaksa Ma Kang-gil.
Mereka berhasil mengantongi surat perintah penggeledahan kantor ketua S-Group dan divisi Future Strategy Office. Ketika Direktur Han menyadari situasi ini, semuanya sudah terlambat.
Jin-ah bahkan datang 30 menit lebih awal, memastikan bukti-bukti penting tidak sempat dimusnahkan.
Kematian Han Na-young dan Retaknya Batin Han-young
Malam itu, Han-young pulang ke rumah dan menerima kabar bahwa Han Na-young bunuh diri. Dalam surat terakhirnya, Na-young menulis bahwa ia tidak ingin menjadi “beban bagi neneknya”.
Meski tidak menunjukkan emosi secara terbuka, kejadian ini jelas mengguncang batin Han-young.
Pernikahan Tanpa Cinta dan Hidup sebagai “Anjing Peliharaan”
Han-young menikah dengan Yu Se-hui, putri bungsu dari Firma Hukum Haenal. Pernikahan mereka bukan didasari cinta, melainkan kepentingan. Se-hui dan ayahnya hidup mewah, sementara Han-young berasal dari keluarga sederhana.
Ayah Han-young tinggal di panti jompo yang dibiayai keluarga istrinya. Inilah alasan utama Han-young tidak bisa keluar dari pernikahan tersebut. Ia tidak memiliki apa-apa atas namanya sendiri—menjadikannya kambing hitam dan pion dalam permainan kekuasaan.
Hubungannya dengan sang ibu pun memburuk. Ibunya tahu tentang korupsi yang dilakukan Han-young, dan setelah kematian Na-young, rasa bersalah menghantuinya.
Kematian Sang Ibu dan Titik Balik Emosional
Ibunda Han-young datang melayat Han Na-young dan menerima caci maki yang seharusnya ditujukan pada putranya. Dalam perjalanan pulang, ia mengalami serangan asma dan pingsan. Saat itu, Han-young sedang sibuk menjilat atasan dan mengabaikan panggilan telepon.
Ketika akhirnya tiba di rumah sakit, Han-young menyaksikan ibunya meninggal akibat serangan jantung. Duka mendalam menyelimuti dirinya, namun sistem tak memberinya waktu untuk berduka.
Hakim Agung Kang Shin-jin dan Permainan Kotor
Drama ini juga memperkenalkan Kang Shin-jin, Ketua Mahkamah Agung yang tak kalah kejam. Setelah penggerebekan S-Group, CEO Jang Tae-sik meminta bantuannya untuk mengendalikan situasi.
Shin-jin ingin Han-young tetap menjadi hakim yang patuh dan berpihak pada S-Group. Bersama ayah Han-young, mereka merancang skema keji: menyelundupkan narkoba ke penjara agar CEO S-Construction bunuh diri, menjadikannya kambing hitam tunggal.
Perlawanan Sunyi dan Putusan Mengejutkan
Kim Jin-ah mulai menyelidiki masa lalu Han-young dan menyadari bahwa rekor kemenangannya 100% bukan kebetulan, melainkan hasil korupsi. Namun, ia juga memahami bahwa Han-young terjebak karena ancaman terhadap ayahnya.
Di hari persidangan S-Group, Han-young datang terlambat. Namun putusannya mengejutkan semua pihak: Jang Tae-sik dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan denda 24 miliar won.
Shin-jin murka. Jin-ah terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Akhir Episode: Tuduhan Pembunuhan
Saat Han-young mencoba menyusun kembali hidupnya, teleponnya terus berdering. Namun episode ini ditutup dengan kejutan besar: Lee Han-young ditangkap dan dituduh membunuh seorang kaki tangan. Ia bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah dan telah dijebak.
Review Episode 1: Awal yang Padat dan Menggigit
The Judge Returns Episode 1 berjalan cepat dan padat. Dalam 30 menit awal, drama ini menyuguhkan banyak karakter dan dua kasus besar yang saling terkait. Meski terasa intens, alur mulai stabil ketika fokus mengerucut pada konflik batin Han-young.
Julukan “anjing peliharaan” bukan sekadar hinaan, melainkan cerminan hidupnya. Ia telah kehilangan moral, empati, dan identitas. Namun kematian sang ibu menjadi pemicu kebangkitan nurani.
Hubungan potensial antara Han-young dan Kim Jin-ah juga menjadi daya tarik tersendiri. Keduanya sama-sama ingin menegakkan keadilan, meski dengan cara yang tidak selalu bersih.
Dengan akhir episode yang menggantung dan penuh intrik, The Judge Returns menjanjikan perjalanan kelam yang sarat konflik moral dan konsekuensi besar bagi sang tokoh utama.




