Dalam masyarakat modern, kesuksesan kerap digambarkan sebagai garis lurus yang rapi: sekolah tinggi, jabatan mentereng, hidup mapan, lalu bahagia. Film Penerbangan Terakhir seolah datang untuk merusak poster motivasi itu—dengan cara yang cukup kejam, tapi jujur.
Disutradarai oleh Benni Setiawan, film ini mengajak penonton menelusuri sisi gelap dari ambisi, validasi sosial, dan kepercayaan berlebih pada simbol status. Lewat tokoh utama Deva Angkasa (Jerome Kurnia), penonton dibawa ke sebuah pertanyaan sederhana tapi mengganggu: apakah jabatan tinggi otomatis membuat seseorang layak dipercaya?
Deva Angkasa dan Ilusi Pencapaian
Deva Angkasa adalah gambaran “anak sukses” versi masyarakat urban. Di usia muda, ia sudah mencapai posisi prestisius sebagai kapten pilot—lengkap dengan empat garis emas di pundaknya. Jam terbang tercapai, karier melesat, dan citra publik tampak sempurna.
Namun film ini tidak berhenti pada pencapaian. Justru sebaliknya, Penerbangan Terakhir membedah apa yang terjadi setelah mimpi besar itu diraih. Di sinilah konsep psikologis arrival fallacy mengambil peran penting: keyakinan bahwa kebahagiaan akan datang dan menetap setelah tujuan besar tercapai.
Nyatanya, yang ditemukan Deva bukan ketenangan, melainkan tekanan. Status tinggi menuntut citra sempurna. Dan citra, seperti yang kita tahu, sering kali lebih mahal dari gaji sebenarnya.
Disonansi Batin dan Gengsi yang Mahal
Film ini menyoroti konflik batin Deva melalui fenomena cognitive dissonance—ketegangan psikologis ketika realitas hidup tak sejalan dengan identitas yang ingin ditampilkan.
Sebagai kapten pilot, Deva diharapkan hidup mapan, tampil berkelas, dan tak boleh terlihat “kurang”. Standar sosial semacam ini, apalagi di era media sosial, berubah menjadi jebakan. Ketika kemampuan finansial tak mampu menopang gaya hidup yang dianggap “wajib”, moralitas pun mulai dinegosiasikan.
Di titik inilah film ini terasa getir—dan sedikit satir. Seragam pilot yang seharusnya melambangkan tanggung jawab justru berubah menjadi kostum untuk mempertahankan gengsi. Bukan lagi soal terbang aman, melainkan terlihat berhasil.
Film seperti Penerbangan Terakhir terasa lebih efektif ditonton dengan audio yang rapih. Detail dialog, jeda sunyi, dan tekanan emosional karakternya lebih mudah terasa saat ditonton menggunakan
headphone atau earphone yang mampu meredam suara sekitar.
Otoritas, Manipulasi, dan Kokpit sebagai Simbol Kuasa
Penerbangan Terakhir juga mengupas dinamika kekuasaan di ruang profesional. Kokpit pesawat digambarkan bukan sekadar ruang kerja, melainkan simbol otoritas absolut. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai authority bias—kecenderungan untuk lebih percaya pada mereka yang memiliki jabatan tinggi.
Deva memanfaatkan posisi dan karismanya untuk memengaruhi orang lain. Cara bicaranya persuasif, gesturnya meyakinkan. Sutradara dengan cerdas menunjukkan bahwa manipulasi tak selalu hadir dalam bentuk ancaman, melainkan sering dibungkus perhatian berlebih—atau yang kini populer disebut love bombing.
Hubungan Deva dengan Tiara (Nadya Arina) menjadi contoh bagaimana kekuasaan bisa menyusup ke ranah personal. Apa yang tampak romantis di permukaan, perlahan terbaca sebagai kontrol.
Media Sosial dan Penghakiman Kolektif
Lapisan lain yang menarik datang dari karakter Nadia (Aghniny Haque), yang merepresentasikan peran media sosial dalam membentuk opini publik. Di era digital, kebenaran sering kali kalah cepat dari narasi yang paling nyaring.
Film ini menyinggung fenomena internalized misogyny, di mana sesama perempuan justru saling menyalahkan dalam pusaran skandal. Media sosial menjadi arena pengadilan massal—tanpa ruang klarifikasi, tanpa empati, dan sering kali tanpa konteks.
Isu tentang validasi sosial, disonansi batin, dan bias otoritas yang muncul di film ini juga banyak dibahas dalam
buku-buku psikologi populer dan refleksi diri.
Bacaan semacam ini sering membantu penonton memahami bahwa konflik batin para karakter sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sinilah halo effect bekerja. Karier cemerlang dan citra publik yang positif membuat Deva lebih mudah dimaafkan. Sementara pihak yang posisinya lebih lemah harus menanggung beban sosial yang jauh lebih berat. Film ini secara halus, tapi tegas, menyindir bagaimana sistem kerap melindungi mereka yang punya kuasa.
Pesan Moral: Jatuh Bukan Karena Ketinggian
Diangkat dari cerita fiksi Gadis Pramugari karya Annastasia Anderson, Penerbangan Terakhir bukan sekadar drama psikologis. Ia adalah kritik sosial terhadap cara kita memaknai kesuksesan.
Film ini menegaskan bahwa pencapaian tanpa fondasi moral hanya akan melahirkan kehampaan. Kesuksesan yang dibangun di atas utang, kebohongan, dan validasi eksternal tak lebih dari fatamorgana—terlihat megah dari jauh, melelahkan saat didekati.
Menonton film dengan tema berat seperti ini juga sering terasa lebih nyaman dalam suasana tenang dan pencahayaan lembut.
Penggunaan lampu ambient atau lampu tidur bernuansa hangat
bisa membantu penonton lebih fokus mencerna konflik psikologis yang disajikan sepanjang cerita.
Pada akhirnya, film ini mengajak penonton untuk tidak mudah kagum pada seragam, jabatan, atau citra. Karena keberhasilan sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang bisa terbang, melainkan seberapa jujur ia berdiri ketika tak lagi berada di atas awan.




