Cleaning Up (2022): Sinopsis dan Review Drama Korea Tentang Insider Trading dan Realitas Kelas Pekerja

Drama Korea Cleaning Up hadir sebagai tontonan yang diam-diam menyengat. Di permukaan, serial ini tampak seperti drama tentang tiga petugas kebersihan yang bekerja di sebuah perusahaan sekuritas. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa Cleaning Up bukan sekadar kisah para pekerja kelas bawah yang menjalani rutinitas harian. Drama ini adalah potret satir tentang uang, kekuasaan, dan bagaimana sistem finansial sering kali memberi peluang justru pada mereka yang berani melanggar aturan.

JTBC menayangkan Cleaning Up pada slot akhir pekan Sabtu dan Minggu pukul 22.30, menggantikan My Liberation Notes. Sebuah posisi yang cukup menantang, mengingat pendahulunya dikenal dengan pendekatan filosofis dan emosional yang kuat. Namun Cleaning Up memilih jalur berbeda: lebih lugas, lebih gelap, dan di beberapa bagian terasa ironis.

Premis Cerita: Dari Pel ke Saham

Cerita berfokus pada tiga perempuan dengan latar belakang yang sangat berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu pekerjaan yang sama: petugas kebersihan di sebuah perusahaan pialang saham.

Eo Yong Mi (Yeom Jung Ah) adalah seorang ibu tunggal yang membesarkan dua anak perempuan seorang diri. Hidupnya dipenuhi kecemasan tentang biaya sekolah, sewa rumah, dan kebutuhan sehari-hari yang terus menumpuk. Yong Mi bukan tipe karakter yang banyak bermimpi. Ia hanya ingin bertahan hidup, memastikan anak-anaknya tidak kekurangan, meski itu berarti ia sendiri harus terus menekan keinginan pribadi.

An In Kyung (Jeon So Min) berada di spektrum yang berbeda. Ia masih menyimpan mimpi sederhana: memiliki food truck dan membuka kafe keliling. Mimpinya terdengar ringan, hampir naif, tetapi justru di situlah daya tarik karakternya. In Kyung percaya bahwa kerja keras akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik, meski realitas terus menguji optimisme itu.

Sementara itu, Maeng Su Ja (Kim Jae Hwa) tampil sebagai sosok yang paling lihai secara sosial. Ia ramah, supel, dan mudah bergaul. Namun di balik sikapnya yang hangat, ada kecenderungan oportunis. Su Ja hanya benar-benar bersahabat ketika ada keuntungan yang bisa diambil. Karakter ini menjadi representasi orang yang sangat paham cara bertahan di lingkungan keras, meski harus mengorbankan ketulusan.

Ketiganya tanpa sengaja mendengar informasi rahasia tentang saham saat sedang bekerja. Dari percakapan para eksekutif yang menganggap mereka tak lebih dari bayangan di sudut ruangan, lahirlah peluang berbahaya. Informasi orang dalam itu menjadi pintu masuk menuju dunia investasi ilegal, insider trading, dan konsekuensi yang menyertainya.

Ketika Sistem Memberi Celah

Cleaning Up dengan cerdas mempermainkan ironi. Di satu sisi, praktik insider trading adalah kejahatan serius. Di sisi lain, drama ini mempertanyakan siapa sebenarnya yang paling sering diuntungkan oleh sistem keuangan. Para eksekutif yang berbicara santai tentang jutaan won, atau para petugas kebersihan yang hanya kebetulan mendengar dan memanfaatkannya?

Drama ini tidak secara gamblang membenarkan tindakan para tokohnya. Sebaliknya, Cleaning Up menempatkan penonton pada posisi tidak nyaman: ikut memahami, bahkan bersimpati, pada pilihan yang secara hukum jelas salah. Ada nada satir yang kuat ketika tiga perempuan ini, yang selama ini tak dianggap, justru mampu “bermain” di dunia saham dengan hasil yang mengejutkan.

Namun keuntungan cepat selalu datang dengan harga mahal. Setiap keputusan investasi membawa risiko, bukan hanya finansial, tetapi juga moral dan emosional. Ketiganya mulai terjebak dalam kebohongan kecil yang perlahan membesar, memengaruhi hubungan personal dan rasa percaya satu sama lain.

Jika ditarik ke kehidupan nyata, pilihan finansial para tokohnya juga membuka ruang refleksi tentang cara mengelola uang di tengah tekanan hidup. Pembahasan lebih lanjut soal apa yang bisa dan tidak bisa ditiru dari sisi keuangan bisa dibaca di artikel terpisah ini.

Karakterisasi dan Akting

Yeom Jung Ah tampil solid sebagai Eo Yong Mi. Ia membawa beban hidup karakternya dengan ekspresi yang terasa realistis. Tidak ada dramatisasi berlebihan, justru kelelahan yang ia tampilkan terasa akrab. Yong Mi bukan pahlawan, tetapi juga bukan penjahat. Ia hanyalah seseorang yang kehabisan pilihan.

Jeon So Min, yang sering dikenal lewat peran komedi atau variety show, menunjukkan sisi berbeda melalui An In Kyung. Karakternya memberikan keseimbangan antara kepolosan dan keberanian. In Kyung mungkin tampak paling rapuh, tetapi justru ia sering menjadi penentu arah ketika dua lainnya mulai goyah.

Kim Jae Hwa sebagai Maeng Su Ja mencuri perhatian lewat timing komedi dan kelicikan yang halus. Karakter ini mudah disukai sekaligus dicurigai. Ia sering menjadi pengingat bahwa dalam permainan uang, niat baik saja tidak pernah cukup.

Interaksi ketiganya terasa alami, seperti rekan kerja yang terpaksa saling bergantung. Tidak selalu hangat, tidak selalu jujur, tetapi cukup kuat untuk membuat penonton peduli pada nasib mereka.

Adaptasi dari Serial Inggris

Cleaning Up merupakan adaptasi dari serial Inggris berjudul sama, Cleaning Up, yang tayang di ITV pada tahun 2019. Versi Korea ini menyesuaikan konflik dengan konteks sosial dan ekonomi lokal. Dunia pasar saham Korea, tekanan hidup perkotaan, serta relasi keluarga menjadi fokus utama.

Alih-alih meniru mentah-mentah versi aslinya, adaptasi ini memberikan nuansa khas drama Korea: hubungan ibu dan anak, solidaritas perempuan, serta kritik sosial yang dibungkus narasi personal. Hasilnya adalah cerita yang terasa relevan bagi penonton lokal maupun internasional.

Ritme Cerita dan Nuansa Satir

Dengan total 16 episode berdurasi sekitar 70 menit, Cleaning Up memiliki ritme yang cenderung stabil. Beberapa episode awal berfungsi sebagai pengenalan karakter dan dunia kerja mereka. Ketegangan mulai meningkat ketika investasi pertama berhasil, dan rasa percaya diri berubah menjadi keserakahan kecil.

Nuansa satir muncul dalam detail-detail sederhana: cara para petinggi perusahaan berbicara tentang uang seolah angka di layar bukanlah hasil kerja keras orang lain, atau bagaimana para petugas kebersihan justru lebih memahami risiko dibanding mereka yang merasa berkuasa.

Namun drama ini juga tidak lepas dari kelemahan. Di beberapa bagian, konflik terasa berputar-putar, dan keputusan karakter bisa tampak terlalu impulsif. Meski begitu, hal ini justru memperkuat kesan realistis: tidak semua orang membuat pilihan rasional saat berhadapan dengan uang.

Tema Perempuan dan Kelas Sosial

Salah satu kekuatan Cleaning Up adalah fokusnya pada perempuan kelas pekerja. Drama ini jarang mengglorifikasi kemiskinan, tetapi juga tidak menjadikannya alat manipulasi emosi. Ketiga tokoh utama digambarkan sebagai individu dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Persahabatan mereka bukan hubungan ideal yang selalu saling mendukung. Ada kecemburuan, kecurigaan, dan rasa takut kehilangan. Semua itu membuat dinamika cerita terasa lebih manusiawi.

Kesimpulan

Cleaning Up adalah drama yang menawarkan lebih dari sekadar kisah kriminal ringan. Ia mengajak penonton melihat dunia finansial dari sudut pandang yang jarang disorot: mereka yang biasanya hanya membersihkan sisa-sisa pesta orang lain.

Dengan akting kuat, premis menarik, dan sentuhan satir yang halus, drama ini berhasil menyampaikan kritik sosial tanpa terasa menggurui. Cleaning Up mungkin tidak selalu nyaman ditonton, tetapi justru di situlah kekuatannya. Sebuah pengingat bahwa dalam sistem yang timpang, garis antara benar dan salah sering kali menjadi kabur.

Related

Tinggalkan komentar