Episode 12 sekaligus menjadi penutup Can This Love Be Translated?, drama Korea yang sejak awal bermain di wilayah emosi, komunikasi, dan luka batin yang tak selalu bisa diterjemahkan dengan kata-kata. Namun alih-alih menutup dengan rapi, episode final ini justru memilih jalur berliku—lengkap dengan pengungkapan trauma, rahasia keluarga, dan keputusan mendadak yang terasa datang terlambat.
Reality Show, Pengakuan, dan Klarifikasi
Episode dibuka dengan Hiro dan Mu-hee yang menonton rough cut acara reality show mereka. Ms. Cha menawarkan opsi untuk memotong adegan pengakuan cinta di akhir, namun Hiro menerimanya dengan lapang. Ia memilih tidak menghapus apa pun, seolah akhirnya berdamai dengan perasaannya sendiri.
Di kereta, Ho-jin akhirnya jujur pada Ji-seon. Ia mengakui pernah menyukainya, dan untuk pertama kalinya mereka membersihkan semua kesalahpahaman yang lama menggantung. Tidak dramatis, tidak berisik—hanya dua orang dewasa yang akhirnya berbicara jujur.
Kembali di Seoul, Mu-hee meminta maaf pada Ho-jin karena telah memberinya harapan. Ia menjelaskan bahwa Do Ra-mi selama ini melihat Ho-jin sebagai “akhir bahagia”—bukan sebagai cinta sejati, melainkan sebagai jalan keluar dari kenyataan yang menyesakkan.
Rahasia Keluarga yang Mulai Terbuka
Di sisi lain, Tuan Kim bertemu dengan Tuan Cha dan istrinya lewat perantara seorang teman. Ia mengaku khawatir pada Ho-jin, yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Bibi Mu-hee pun ikut campur, meminta Tuan Kim untuk menjauhkan Ho-jin dari keponakannya.
Malam itu, Ho-jin kembali dari Busan dan bertemu Mu-hee di stasiun. Mereka pergi ke sebuah tempat tinggi dengan pemandangan kota Seoul, lalu sepakat suatu hari nanti akan pergi ke dark sky reserve untuk melihat Bima Sakti—janji kecil yang kelak menjadi simbol besar di akhir episode.
Lamaran di Busan dan Rencana Masa Depan
Sementara itu di Busan, Ji-seon memamerkan kisah cintanya pada teman-temannya—sampai Yong-u benar-benar muncul. Ia mengatakan punya hal penting, lalu melamarnya. Yong-u menjelaskan bahwa ia akan ke Inggris untuk urusan kerja, tetapi tidak ingin putus.
Alih-alih sedih, Ji-seon justru tenang. Ia mengungkapkan rencananya untuk studi ke luar negeri, dan mereka bisa pergi bersama. Sebuah keputusan dewasa yang kontras dengan kerumitan pasangan utama.
Siapa Sebenarnya Do Ra-mi?
Mu-hee mengaku pada psikiaternya bahwa ia sudah lama tidak “melihat” Do Ra-mi. Sang dokter menduga Do Ra-mi hanyalah simbol dari seseorang di masa lalu.
Tak lama kemudian, Tuan Cha mendatangi Ho-jin dan mengungkap kebenaran kelam: ibu Mu-hee tidak menikah dengan ayahnya. Ia menggunakan kehamilan untuk mempertahankan hubungan itu, yang berujung pada tragedi.
Saat Mu-hee sedang berbelanja, bibinya datang membawa kabar bahwa Ho-jin sedang diberi tahu kebenaran. Mu-hee mempertanyakan mengapa dirinya yang disalahkan selama ini, padahal ia tidak bersalah. Jawaban bibinya menusuk: Mu-hee terlalu mirip ibunya.
Kata-kata itu menjadi pemicu. Mu-hee menatap cermin dan menyadari sesuatu yang selama ini terlewat—Do Ra-mi bukan alter egonya. Do Ra-mi adalah representasi ibunya. Ingatan lama menyerbu, tubuhnya limbung, dan ia pingsan.
Trauma yang Terlambat Dibuka
Dalam kilas balik, terlihat ibu Mu-hee mencoba memaksa putrinya memakan kue beracun—kue yang menewaskan sang ayah. Saat Mu-hee menolak, ibunya mengatakan bahwa tak seorang pun akan mencintainya, dan ia takkan pernah bahagia. Kalimat itu menjadi luka yang dibawa Mu-hee seumur hidup.
Kebenaran Baru tentang Orang Tua Mu-hee
Mu-hee terbangun di rumah sakit setelah tiga hari koma. Yong-u memberitahunya soal itu, lalu Ho-jin datang. Mereka hanya tersenyum—tanpa kata, tanpa kepastian.
Ho-jin kemudian menunjukkan foto ibunya dan mengungkap fakta mengejutkan: kedua orang tua Mu-hee sebenarnya masih hidup. Mereka diselamatkan paramedis. “Paman” yang tinggal di luar negeri adalah ayah kandungnya, sementara keberadaan ibunya tidak diketahui. Tuan Cha mengaku berbohong karena Mu-hee tak mengingat kejadian itu.
Hiro dan Keputusan untuk Berjuang
Di Jepang, Hiro tampak baik-baik saja. Ia mengikuti audisi film Hollywood dan mengatakan pada sutradara bahwa kini ia sadar: jika tidak memperjuangkan apa yang diinginkan, penyesalan akan datang. Nanami memujinya—Hiro telah dewasa.
Apakah Ho-jin dan Mu-hee Putus?
Ya. Mu-hee memutuskan untuk mencari ibunya, dan satu-satunya petunjuk adalah ayahnya di luar negeri. Saat Ho-jin mengantarnya ke bandara, Mu-hee meminta mereka putus saat itu juga—dengan alasan nyaris satir: agar suatu hari nanti, ia bisa kembali dan “memaksa” Ho-jin berkencan dengannya lagi untuk waktu yang lama.
Sementara Mu-hee pergi, Ji-seon dan Yong-u berangkat ke Inggris. Ibu Ho-jin kembali ke rumah dan menyumbangkan semua buku peninggalan ayahnya—sebuah penutupan sunyi atas masa lalu.
Ending: Bima Sakti dan Cinta yang Kembali
Natal tiba. Tim reality show merayakan final cut. Ji-seon memamerkan cincin tunangannya—Yong-u kini resmi menjadi tunangannya.
Ho-jin menerima pesan dari Mu-hee. Ia mengundangnya ke dark sky reserve. Di sana, Mu-hee muncul dengan ponsel berisi aplikasi penerjemah, mengatakan betapa ia merindukannya. Ia membawa buket daun semanggi. Untuk pertama kalinya, Ho-jin kehilangan kata-kata.
Mereka berciuman saat observatorium terbuka dan langit penuh bintang menjadi saksi—akhir yang manis, meski penuh tanda tanya.
Review Episode 12: Terlalu Banyak Twist di Detik Terakhir
Can This Love Be Translated? Episode 12 ini membuktikan bahwa penulis masih sempat menjejalkan lebih banyak kejutan—meski sebenarnya tak diperlukan.
Menggali trauma Mu-hee di episode terakhir terasa terlambat. Konsep Do Ra-mi sebagai representasi suara sang ibu memang masuk akal dan memberi penjelasan rapi atas perilaku Mu-hee selama ini. Namun pengungkapan bahwa kedua orang tuanya masih hidup terasa berlebihan dan nyaris tidak memberi dampak emosional yang sepadan.
Lebih buruk lagi, drama tidak pernah menjawab konsekuensinya. Apakah Mu-hee menemukan ibunya? Mengapa seseorang dengan masa lalu sekelam itu dibiarkan bebas? Apakah aman bagi Mu-hee mencarinya? Semua pertanyaan itu dibiarkan menggantung.
Sisi positifnya, hubungan Ho-jin dan Mu-hee akhirnya keluar dari pola “kita pasti putus”. Mu-hee bahkan menyebutnya sebagai omong kosong. Ada momen manis, ada penutupan simbolis, tetapi secara keseluruhan, bagian akhir drama ini terasa mengecewakan—sebuah cerita tentang cinta yang indah, namun penyelesaiannya terlalu terburu-buru.
Simak juga: Drama Run On (2020) juga menghadirkan pendekatan slice of life yang tenang dan reflektif.




