28 Years Later: The Bone Temple (2026) — Saat Manusia Terbukti Lebih Menakutkan dari Zombie

Genre: Horror, Thriller
Durasi: 109 menit
Sutradara: Nia DaCosta
Penulis Skenario: Alex Garland
Rating: ⭐⭐⭐⭐☆ (4/5)

Apa yang lebih menakutkan dari zombie? Jawaban paling jujurnya di semesta 28 Years Later adalah: manusia itu sendiri.

Lewat 28 Years Later: The Bone Temple, Alex Garland kembali menegaskan bahwa kiamat zombie bukan hanya soal makhluk terinfeksi yang berlari kencang, tapi tentang bagaimana manusia perlahan kehilangan akal sehat—dan dengan bangga menyebutnya sebagai iman.

Sinopsis 28 Years Later: The Bone Temple

Film ini melanjutkan kisah Spike (Alfie Williams) yang setelah perjalanan emosional demi menyelamatkan ibunya, justru terjerumus ke pertemuan dengan kelompok bernama “Jimmies”.

Kelompok ini dipimpin oleh sosok karismatik sekaligus mengganggu, Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O’Connell). Bagi penonton yang penasaran mengapa Danny Boyle membuka film sebelumnya dengan Jimmy kecil, film ini adalah jawaban yang telat tapi memuaskan.

Jimmy Crystal meyakini dirinya sebagai nabi. Ia mengumpulkan bocah-bocah lelaki, menamai mereka semua “Jimmy”, dan membangun sekte kecil di tengah dunia yang sudah runtuh. Film ini bahkan dibuka dengan adegan yang langsung membuat perut mengeras: Spike harus membunuh seseorang jika ingin bergabung.

Sebuah ujian iman versi pasca-apokaliptik—tanpa kitab suci, hanya darah.

Di sisi lain, ada Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), ilmuwan yang masih berusaha mempertahankan logika di dunia yang sudah lama meninggalkannya. Ia telah berkali-kali berhadapan dengan Samson, zombie alpha raksasa yang bisa memenggal kepala manusia dengan mudah.

Kali ini, Kelson melangkah lebih jauh. Ia bereksperimen. Untuk pertama kalinya, ada secercah harapan di ujung dunia yang suram.

Review Film

Melanjutkan sekuel dari film yang sudah solid jelas bukan perkara mudah. Danny Boyle memperbarui genre zombie lewat 28 Days Later, lalu memperluas mitologinya di 28 Years Later. Kini tongkat estafet ada di tangan Nia DaCosta.

Kabar baiknya, DaCosta tidak tumbang oleh beban itu.

The Bone Temple memang tidak se-memikat film sebelumnya secara visual. Tidak ada eksperimen ekstrem ala Boyle dan Anthony Dod Mantle. Namun justru lewat kesederhanaan itu, DaCosta menemukan identitasnya sendiri.

Ia tahu kapan harus mengagetkan penonton dengan jump scare yang tak terduga, dan kapan harus lebih kejam dengan cara menyembunyikan horor itu sendiri. Dalam salah satu adegan paling menakutkan, kamera menolak memperlihatkan apa yang terjadi.

Yang bekerja justru suara, ekspresi aktor, dan imajinasi penonton. Dan hasilnya jauh lebih menghantui.

Cerita Sederhana, Tapi Efektif

Dari sisi plot, film ini memang lebih lugas. Tugasnya “hanya” mengeksplorasi fondasi cerita yang sudah dibangun sebelumnya. Tapi Alex Garland tidak menyia-nyiakan peluang itu.

Penonton akhirnya mendapat informasi baru tentang virus yang menciptakan para zombie. Bahkan ada adegan dari sudut pandang zombie yang bukan sekadar gimmick, melainkan elemen penting dalam penelitian Kelson.

Ralph Fiennes kembali membuktikan kelasnya. Ia bisa tampil lucu, sendu, dan tragis—kadang dalam satu adegan yang sama. Alfie Williams sukses membuat Spike terasa manusiawi, sementara Jack O’Connell tampil memikat sekaligus menjengkelkan sebagai Jimmy Crystal.

O’Connell bukan sekadar antagonis. Ia karismatik, menjijikkan, dan menyebalkan dengan cara yang tepat—tipe villain yang enak ditonton sekaligus dimaki.

Kesimpulan

Dengan durasi 109 menit, 28 Years Later: The Bone Temple adalah sekuel yang memuaskan meski tidak tanpa cela. Klimaksnya terasa kurang meriah, terutama mengingat kegilaan geng “Jimmies” yang sudah dibangun sejak awal.

Namun senjata utama film ini bukan pada ledakan akhir, melainkan pada ending-nya. Pancingan menuju kelanjutan cerita dilempar dengan sangat meyakinkan.

Dan saat layar menggelap, satu hal terasa jelas: dunia ini belum selesai bercerita—dan manusia tetap menjadi ancaman paling menakutkan di dalamnya.

Related

Tinggalkan komentar