Gunung Slamet dan Mitos Ramalan Jayabaya

Gunung Slamet memang sebuah gunung yang dianggap memiliki sisi misteri, setelah Gunung Merapi. Mengenai gunung Slamet, masyarakat sekitar selalu mengaitkannya dengan Ramalan Jayabaya, mengenai keadaan Pulau Jawa yang terbelah dua, apabila gunung ini meletus besar. Dalam beberapa minggu ini, Gunung Slamet terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Lava pijar dan hujan abu menyembur dan selalu menyelimuti puncak gunung. Gunung Slamet terletak di lima kabupaten yaitu, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Pemalang dan Tegal. Hari Kamis lalu, terjadi letusan lava pijar, yang mengarah ke barat dan barat daya Gunung Slamet, yang berarti menuju wilayah Brebes dan Tegal, di Jawa Tengah.
Dari pemantauan visual, lontaran tertinggi dan memanjang radius biasanya hanya satu kilometer. Namun kali ini sudah mencapai 2 kilometer lebih. Pada tanggal 10 Spetember, terjadi semburan hingga 80 kali dan lontaran batu pijar sebanyak 50 kali. Demikian dikemukakan oleh Koordinator SAR Daerah Jateng Bakorwil III Banyumas-Pekalongan, Rudi Setiawan, dikutip dari Merdeka.com
Gunung Slamet dan Mitos Ramalan Jayabaya

Gunung Slamet dan Mitos Ramalan Jayabaya


Seperti yang saya katakan diawal tadi, gunung slamet ini memiliki mitos sendiri di kalangan masyarakat. Mungkin ini seperti halnya gunung-gunung lain yang juga memilikinya. Gunung Slamet juga memiliki mitos yang tersebar dari mulut ke mulut, oleh warga di lereng sekitarnya. Salah satu mitos yang paling sering dikemukakan oleh warga lereng gunung Slamet adalah akan terbelahnya pulau Jawa, apabila gunung yang memiliki ketinggian 3.428 itu mengalami letusan besar. Hal ini banyak diyakini oleh warga, karena letak Gunung Slamet yang memang nyaris berada di tengah-tengah antara pantai utara dan selatan. Perlu Anda ketahui, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini, letaknya juga berada di tengah-tengah pulau Jawa.

Gunung Slamet dan Mitos Ramalan Jayabaya

Berdasarkan cerita yang beredar, apabila Gunung Slamet meletus besar, maka letusan ini akan menciptakan parit besar atau selat yang akan mempersatukan laut selatan dan utara. Cerita mitos ini telah lama berkembang di warga Banyumas dan sekitarnya.
Keberadaan cerita atau mitos ini, lalu dihubung-hubungkan dengan ramalan Ki Jayabaya, yang menyebutkan bahwa pada suatu saat, Pulau Jawa akan terbelah dua. Tidak diketahui, mana diantara dua hal ini yang lebih dahulu ada. Ramalan Jayabaya atau mitosnya sendiri. Namun, kedua hal itu seolah menjadi tali temali satu sama lain. Bahwa pulau Jawa akan terbelah dua dan Gunung Slamet adalah sumbunya.
Apabila dihubungkan dengan letusan Gunung Krakatau, mitos ini seolah bukan hal yang mustahil. Kita tahu, Gunung Krakatau yang terletak di selat Sunda pada tanggal 27 Agustus 1883 lalu meletus dahsyat. Letusan Krakatau ini mengakibatkan terciptanya awan panas dan gelombang tsunami yang menyebabkan sekitar 36.000 jiwa meninggal. Bahkan kabarnya, suara letusan yang ditimbulkan dari Krakatau itu terdengar sampai di Australia dan Pulau Rodrigues di dekat Afrika. Para ahli menyebut daya Krakatau mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Para peneliti juga menyebut jauh sebelum letusan tahun 1883, Krakatau pernah meletus hebat dan membuat Pulau Jawa dan Sumatera terpisah. 
Lalu bagaimana dengan Gunung Slamet ?
“Warga kita semua tentu berharap Slamet tetap sedia kala, adem ayem, tidak meletus besar seperti kata-kata orangtua dulu. Slamet itu artinya selamat dan menyelamatkan,” harap Warko, salah seorang warga kepada Merdeka.com.
Digunakannya nama Slamet yang berarti selamat, diyakini mengandung doa dan harapan. Gunung Slamet diharapkan tetap membuat warga yang tinggal di lerengnya tetap selamat dan jauh dari mara bahaya. Mari kita juga bersama berdoa. Amiin ..

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan