Sinopsis dan Review Even if This Love Disappears Tonight (2025), Cinta yang Bertahan di Tengah Lupa

Film Korea Even if This Love Disappears Tonight (2025) hadir sebagai remake dari film Jepang populer tahun 2022 yang diadaptasi dari novel Konya, Sekai kara Kono Koi ga Kietemo karya Misaki Ichijo. Sejak awal diumumkan, film ini sudah membawa beban ekspektasi yang tidak kecil, terutama bagi penonton yang pernah tersentuh oleh versi aslinya.

Mengusung tema cinta remaja, penyakit, dan ingatan yang rapuh, film ini mencoba kembali menceritakan kisah yang sederhana namun emosional: tentang dua anak muda yang jatuh cinta, meski sadar bahwa waktu dan ingatan tidak berpihak pada mereka.

Namun, apakah versi Korea ini mampu menghadirkan kembali luka yang sama? Atau justru terasa terlalu aman dan kehilangan daya pukul emosionalnya?

Detail Film

  • Judul: Even if This Love Disappears Tonight
  • Judul Korea: 오늘 밤, 세계에서 이 사랑이 사라진다 해도
  • Genre: Romance, Life, Youth, Melodrama
  • Sutradara: Kim Hye-young
  • Pemeran: Choo Young-woo, Shin Shi-ah, Jo Yoo-jung, Jin Ho-eun, Jo Han-chul
  • Durasi: 1 jam 46 menit
  • Tanggal Rilis: 24 Desember 2025
  • Rating Usia: 13+
  • Negara: Korea Selatan

Sinopsis: Cinta yang Diulang Setiap Hari

Kisah berpusat pada Han Seo-yoon, seorang siswi SMA yang menderita anterograde amnesia—kondisi langka yang membuatnya tidak bisa membentuk ingatan baru. Setiap kali bangun tidur, ingatannya kembali ke titik nol. Semua kejadian kemarin, orang-orang yang ditemuinya, bahkan perasaan yang baru tumbuh, lenyap begitu saja.

Berbeda dengan kondisinya yang berat, Seo-yoon justru digambarkan sebagai gadis yang penuh energi positif. Ia terbiasa mencatat segalanya, menulis perasaan, dan menerima kenyataan hidup dengan senyum yang tidak dibuat-buat.

Di sisi lain ada Kim Jae-won, siswa SMA pendiam yang hidup dengan penyakit jantung bawaan. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa hidupnya mungkin tidak panjang. Tidak punya rencana besar, tidak berani berharap terlalu jauh, dan menjalani hari demi hari dengan perasaan datar.

Pertemuan mereka perlahan berubah menjadi hubungan yang hangat. Jae-won mencintai Seo-yoon dengan kesabaran yang luar biasa—mengulang perkenalan setiap hari, menerima bahwa ia bisa dilupakan kapan saja. Sementara Seo-yoon, meski selalu lupa, terus jatuh cinta dengan versi Jae-won yang baru, lagi dan lagi.

Namun seperti yang bisa ditebak sejak awal, kisah ini tidak menawarkan akhir bahagia yang sederhana.

Review: Tidak Buruk, Tapi Sulit Lepas dari Bayang-Bayang Versi Asli

Jika dilihat sebagai film berdiri sendiri, Even if This Love Disappears Tonight sebenarnya bukan film yang buruk. Ceritanya lembut, temanya universal, dan pesannya tentang kehidupan cukup jelas: bahwa mengingat hal-hal kecil, momen sederhana, dan orang-orang yang hadir dalam hidup adalah sebuah privilese.

Namun masalah utama film ini justru muncul ketika ia dibandingkan dengan versi Jepang-nya—sesuatu yang hampir mustahil dihindari.

Banyak penonton merasa bahwa emosi film ini terasa lebih tipis. Bukan karena ceritanya kurang sedih, tetapi karena cara film ini menyusun ritme dan sudut pandang terasa kurang tepat.

Masalah Pacing dan Emosi

Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah soal pacing. Film ini terlalu lambat di bagian yang seharusnya mengalir ringan, namun terasa terlalu cepat saat seharusnya memberi ruang pada emosi untuk benar-benar menetap.

Akibatnya, momen-momen penting—termasuk menjelang akhir cerita—tidak menghantam sekeras yang diharapkan. Sedihnya ada, tapi tidak sampai membuat dada sesak atau air mata jatuh tanpa sadar.

Beberapa penonton bahkan mengaku tidak menangis sama sekali, bukan karena ceritanya dingin, tapi karena film ini lebih terasa sebagai refleksi kehidupan ketimbang tragedi cinta yang menghancurkan.

Pergeseran Sudut Pandang: Keputusan yang Kontroversial

Perbedaan paling mencolok antara versi Korea dan Jepang terletak pada sudut pandang cerita. Versi Jepang banyak disampaikan dari perspektif karakter perempuan, sehingga penonton benar-benar ikut tenggelam dalam rasa kehilangan, kebingungan, dan kesedihannya.

Sementara versi Korea justru lebih sering mengalihkan fokus ke karakter laki-laki. Niatnya mungkin untuk memberi keseimbangan, namun hasilnya justru membuat keduanya terasa kurang tergali secara mendalam.

Seo-yoon hanya diposisikan sebagai “gadis dengan amnesia”, sementara Jae-won terasa seperti “laki-laki baik dengan penyakit jantung”. Latar belakang mereka, terutama masa lalu Seo-yoon dan dinamika keluarga Jae-won, nyaris tidak mendapat ruang yang cukup.

Akibatnya, ketika tragedi datang, dampaknya terasa cepat berlalu.

Akting dan Karakter: Ada yang Bersinar, Ada yang Terasa Datar

Sinopsis & Review Even if This Love Disappears Tonight (2025) | Film Korea Romantis

Shin Shi-ah menjadi salah satu kejutan menyenangkan dalam film ini. Bagi banyak penonton yang belum familiar dengannya, aktingnya terasa tulus dan natural. Ekspresi wajahnya lembut, dan ia mampu menghadirkan Seo-yoon sebagai karakter yang hangat tanpa terlihat dibuat-buat.

Sebaliknya, Choo Young-woo menuai kritik. Karakternya dinilai terlalu mirip dengan peran-peran sebelumnya: pendiam, dingin, dan emosinya tertahan. Bukan berarti buruk, tapi terasa kurang berkembang. Beberapa adegan emosional justru terasa ditopang oleh aktor lain di sekitarnya.

Karakter sahabat perempuan Seo-yoon menjadi salah satu yang paling disukai. Kehadirannya hangat, suportif, dan terasa nyata—meski sayangnya versi Korea dianggap terlalu “jinak” dibanding karakter sahabat di versi Jepang.

Tema Kehidupan yang Lebih Menenangkan daripada Menghancurkan

Menariknya, banyak penonton justru menyebut film ini lebih illuminating daripada menghancurkan. Alih-alih membuat penonton larut dalam kesedihan, film ini lebih menekankan pada penerimaan hidup.

Tentang kenyataan bahwa:

  • Tidak semua hal bisa diubah
  • Tidak semua cinta bisa bertahan selamanya
  • Dan tidak semua orang akan diingat, meski pernah sangat berarti

Kalimat seperti:

Luka tidak pernah benar-benar hilang. Tapi rasa sakit tidak bertahan selamanya.

menjadi inti emosional film ini. Cinta di sini bukan tentang memiliki, tapi tentang hadir—meski hanya sementara.

Kelebihan Film

  • Hubungan pertemanan terasa hangat dan realistis
  • Adegan-adegan sebelum kematian Jae-won dibangun dengan nuansa nostalgia
  • Tema kehidupan disampaikan dengan lembut dan tidak manipulatif
  • Shin Shi-ah tampil meyakinkan dan berpotensi besar ke depannya

Kekurangan Film

  • Emosi kurang menggigit dibanding versi Jepang
  • Sudut pandang cerita terasa kurang tepat
  • Latar belakang karakter minim eksplorasi
  • OST dan kualitas produksi terasa lebih sederhana
  • Klimaks terasa terlalu cepat

Kesimpulan: Manis, Reflektif, Tapi Tidak Menghancurkan Hati

Even if This Love Disappears Tonight versi Korea adalah film yang baik, hangat, dan nyaman ditonton. Ia cocok untuk penonton yang ingin cerita cinta remaja dengan sentuhan kehidupan dan refleksi ringan.

Namun bagi penonton yang sudah jatuh cinta pada versi Jepang, film ini mungkin terasa kurang menghantam secara emosional. Bukan karena ceritanya gagal, tapi karena potensi ceritanya sebenarnya jauh lebih besar.

Film ini mengingatkan bahwa cinta tidak selalu harus diingat selamanya untuk menjadi berarti. Kadang, cukup pernah hadir—meski kemudian dilupakan.

Dan mungkin, itu justru yang membuat kisah ini tetap layak ditonton.

Sinopsis Mardaani 3 (2026): Aksi Rani Mukerji Bongkar Kejahatan Perdagangan AnakKetika AI Terlihat Selalu Pintar, Manusia Justru Perlu Berani Lambat

Related

Tinggalkan komentar