The Judge Returns Episode 4 Recap & Review: Pengakuan, Dendam, dan Permainan Kuasa

The Judge Returns Episode 4 menjadi momen penting yang menggeser arah cerita secara signifikan. Konflik tak lagi bergerak di permukaan. Motivasi para karakter mulai terbuka, dan harga yang harus dibayar atas sebuah keadilan akhirnya terasa nyata. Alih-alih mengandalkan kejutan, episode ini membangun ketegangan lewat pengakuan, ingatan masa lalu, dan strategi yang dingin serta terukur.

Fakta di Ruang Sidang yang Membalikkan Keadaan

Episode ini dibuka langsung di ruang sidang, melanjutkan adegan krusial dari episode sebelumnya. Han-young mengajukan ponsel Ga-young sebagai barang bukti. Wallpaper foto Ga-young bersama Hyuk-jun menjadi pemicu perubahan suasana ruang sidang. Bukti yang sebelumnya hanya berupa kecurigaan, kini menjelma menjadi keintiman yang tak terbantahkan.

Tak lama kemudian, Hyuk-jun akhirnya mengaku. Ia menyatakan bahwa Ga-young adalah kekasih pertamanya. Hubungannya dengan Seon-hee—sepupu Ga-young—berawal dari kebohongan. Seon-hee memalsukan kehamilan dan menggunakan hal itu untuk memeras Hyuk-jun agar menikahinya. Terdesak dan putus asa, Hyuk-jun kembali pada Ga-young. Bersama-sama, mereka merencanakan pembunuhan Seon-hee demi bisa hidup bersama.

Pengakuan itu mengguncang pengadilan. Media segera menyerbu, dan nama Han-young langsung mencuat. Meski kasus akhirnya dipindahkan karena tekanan emosional yang besar, kebenaran sudah terlanjur tersebar. Narasi publik pun berubah total.

Kecurigaan Shin-jin Mulai Terlihat

Di tengah sorotan yang diterima Han-young, Shin-jin justru semakin gelisah. Ia mulai menyadari satu pola yang mengganggu: Han-young selalu selangkah lebih maju. Setiap solusi muncul terlalu cepat. Setiap fakta terasa seperti sudah dipersiapkan sejak awal. Bagi Shin-jin, ini bukan lagi soal kecerdasan, melainkan potensi ancaman.

Yi-seok kemudian menawarkan kerja sama pada Han-young untuk melawan korupsi bersama. Namun tawaran itu ditolak. Keputusan tersebut terasa dingin, tetapi sebenarnya penuh perhitungan. Han-young memahami bahwa jika Yi-seok terlibat terlalu dekat dengannya sekarang, nasibnya bisa berakhir buruk. Ia ingin Yi-seok tetap bersih, hidup, dan cukup kuat untuk menghadapi Shin-jin di waktu yang tepat.

Kasus Perampokan dan Kebusukan yang Lebih Dalam

Kasus baru muncul dan mengalihkan perhatian publik. Gangnam Palace mengalami perampokan, dan salah satu barang yang hilang adalah sebuah buku catatan penting. Begitu menyadari hal itu, Shin-jin panik. Buku tersebut berisi nama-nama yang bisa menghancurkan posisinya. Tanpa ragu, ia mengirim seorang pembunuh bayaran untuk mengambilnya kembali.

Di sisi lain, ayah Na-yeon ditangkap karena posisinya sebagai penjaga istana. Han-young turun tangan dan dengan cepat membuktikan bahwa penangkapan itu keliru. Dengan logika yang tenang dan pendekatan yang konsisten, ia menyelamatkan orang tak bersalah—sekali lagi menegaskan alasan mengapa kepercayaan publik padanya terus tumbuh.

Sementara itu, ketegangan juga terasa di firma Haneul. Se-hee datang terlambat dan justru ditegur oleh ayahnya. Alih-alih fokus pada pekerjaannya, ia diminta memprioritaskan kencan buta dengan Han-young. Adegan ini menyoroti bagaimana kekuasaan sering meremehkan ambisi, terutama ketika datang dari perempuan.

Persahabatan Lama dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

Untuk melacak buku catatan yang hilang, Han-young meminta bantuan Jeong-ho. Meski dikenal sebagai gangster, Jeong-ho adalah sosok yang setia dan protektif terhadap lingkungannya. Pertemuan mereka berlangsung tenang, nyaris melankolis. Percakapan sederhana itu perlahan membawa penonton ke kilas balik yang menyakitkan.

Di masa lalu, ayah Han-young hidup dalam tekanan dan eksploitasi. Saat terjadi kerusuhan, Han-young remaja ikut bersama Jeong-ho memukul para demonstran demi uang. Dalam kekacauan tersebut, ayahnya terkena pukulan di kepala. Hingga kini, Han-young tak pernah tahu apakah ayahnya menyadari siapa pelakunya.

Rasa bersalah itu tak pernah pergi. Lebih menyakitkan lagi, sang ayah kemudian dipenjara selama setahun akibat fitnah Tae-sik dari S Group. Ketidakadilan itulah yang menjadi luka terdalam dan membentuk tekad Han-young hari ini.

Musuh Lama, Sekutu Baru

Kembali ke masa kini, Tae-sik tiba-tiba ditangkap dalam kondisi darurat oleh jaksa Jin-a. Ketegasannya membangkitkan ingatan Han-young akan kehidupan sebelumnya—tentang dendam pribadi Jin-a terhadap Tae-sik. Tanpa banyak kata, Han-young memutuskan untuk berada di jalur yang sama dengannya. Tujuan mereka sejalan, meski cara yang ditempuh mungkin berbeda.

Pencarian buku catatan berlanjut hingga ke tempat tak terduga: toko milik ibu Han-young. Sang ibu segera menghubunginya dan menyerahkan buku itu, tanpa menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh orang suruhan Shin-jin.

Han-young bergerak cepat. Ia menggelar konferensi pers dan mengungkap seluruh nama dalam buku catatan tersebut ke publik. Dalam satu langkah berani, kekuasaan yang selama ini bersembunyi di balik bayangan dipaksa muncul di bawah sorotan nasional.

Kesimpulan

Episode 4 mengangkat The Judge Returns dari sekadar drama hukum cerdas menjadi kisah berlapis tentang kekuasaan, ingatan, dan balas dendam. Villain terasa semakin tajam, sang protagonis semakin dalam, dan taruhannya meningkat tanpa kehilangan kejelasan emosional. Jika ritme ini terus terjaga, dampak yang akan datang jelas tak bisa dihindari.

Episode 3 | All Lists | Episode 5-6

The Judge Returns Episode 3: Recap & ReviewThe Judge Returns Episode 5–6

Related

Tinggalkan komentar