Sinopsis Drama Korea Can This Love Be Translated? (2026): Ketika Bahasa Tak Lagi Netral dalam Urusan Perasaan

Ada drama yang menarik perhatian karena konflik besar atau romansa yang meledak-ledak sejak menit pertama. Can This Love Be Translated? justru berjalan ke arah sebaliknya. Di awal 2026, drama Netflix ini terasa menonjol bukan semata karena mempertemukan Kim Seon-ho dan Go Youn-jung, tetapi karena keberaniannya bercerita tentang cinta dari ruang yang jarang disentuh: dunia penerjemahan bahasa, tempat netralitas seharusnya dijaga mati-matian.

Sejak episode awal, drama ini tidak tergesa-gesa memancing emosi. Ceritanya bergerak pelan, hampir sunyi, dengan ketegangan yang muncul dari percakapan sehari-hari. Di sini, yang menjadi masalah bukan sekadar apa yang diucapkan, melainkan bagaimana kata-kata itu diterjemahkan, dihaluskan, atau sengaja disimpan. Dan perlahan, justru dari proses itulah perasaan mulai tumbuh—rapuh, diam-diam, dan penuh risiko.

Joo Ho-jin, Penerjemah yang Terlalu Mengerti

Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) adalah seorang interpreter profesional dengan kemampuan bahasa yang luar biasa. Ia menguasai beberapa bahasa asing, termasuk Inggris, Jepang, dan Italia, dan dikenal sebagai penerjemah andal di level internasional. Dalam dunia Ho-jin, profesionalisme berarti satu hal: tetap netral dan tidak terlihat.

Seorang interpreter, menurut prinsip yang ia pegang, tidak boleh menambahkan emosi, tidak boleh memihak, dan tidak boleh mengubah makna. Tugasnya hanya satu—menyampaikan pesan setepat mungkin dari satu bahasa ke bahasa lain.

Namun prinsip itu mulai goyah saat Ho-jin mendapat tugas baru: menjadi penerjemah pribadi bagi Cha Mu-hee.

Cha Mu-hee, Bintang Global dengan Dua Wajah

Cha Mu-hee (Go Youn-jung) adalah sosok publik yang nyaris sempurna. Ia dikenal sebagai bintang global dengan citra elegan, percaya diri, dan selalu terkendali di hadapan media. Setiap gestur dan kalimatnya di depan publik tampak terukur, seolah tidak pernah salah.

Namun di balik sorotan kamera, Mu-hee adalah pribadi yang sangat berbeda. Ia dikenal brutal dalam kejujuran, tajam dalam berbicara, dan sering kali tidak peduli pada dampak kata-katanya. Pernyataannya bisa menusuk, sarkastik, bahkan berpotensi menghancurkan kariernya sendiri jika disampaikan secara mentah ke publik internasional.

Di sinilah peran Ho-jin menjadi krusial.

Ketika Terjemahan Menjadi Alat Perlindungan

Setiap konferensi pers, wawancara media, dan acara publik yang dihadiri Mu-hee berubah menjadi ladang ranjau bagi Ho-jin. Satu terjemahan literal bisa memicu skandal global. Satu kalimat yang terlalu jujur bisa menghapus citra Mu-hee yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Tanpa pernah benar-benar disepakati, Ho-jin mulai melakukan penyesuaian. Ia melembutkan kata-kata Mu-hee, menghaluskan nada bicaranya, dan sesekali “menyelamatkan” situasi dengan versi terjemahan yang lebih aman. Ia tidak sepenuhnya mengubah makna, tetapi cukup untuk menjaga Mu-hee tetap utuh di mata publik.

Di titik ini, profesi Ho-jin tidak lagi netral. Ia bukan sekadar penerjemah, melainkan penyaring realitas.

Intimasi yang Tercipta dari Kata-Kata yang Tak Pernah Terdengar

Tanpa disadari, Ho-jin menjadi satu-satunya orang yang benar-benar mendengar apa yang Mu-hee maksudkan, bukan hanya apa yang ia katakan. Semua kata mentah, emosi tersembunyi, dan kejujuran kasar Mu-hee hanya sampai ke telinga Ho-jin—dan berhenti di sana.

Situasi ini menciptakan bentuk kedekatan yang tidak biasa. Bukan sentuhan fisik atau pengakuan cinta yang mengikat mereka, melainkan kepercayaan linguistik. Mu-hee berbicara dengan bebas karena tahu Ho-jin akan “menjaga” kata-katanya. Ho-jin mendengarkan dengan penuh perhatian karena ia sadar, setiap kalimat membawa risiko.

Di sinilah hubungan mereka mulai bergerak ke wilayah yang lebih personal, bahkan berbahaya.

Ujian Loyalitas yang Dibungkus Humor dan Provokasi

Mu-hee bukan sosok yang pasif dalam dinamika ini. Ketika ia menyadari bahwa Ho-jin sering melembutkan ucapannya, ia mulai menguji batas. Ia melontarkan pernyataan setengah bercanda, setengah serius. Ia menyisipkan kalimat yang terdengar seperti pengakuan, lalu menariknya kembali dengan tawa.

Kadang ia sengaja mengucapkan pernyataan yang bisa menghancurkan kariernya, hanya untuk melihat apakah Ho-jin akan menerjemahkannya apa adanya—atau kembali melindunginya.

Permainan kata-kata ini menjadi sumber ketegangan utama drama. Setiap dialog terasa seperti tarik-ulur antara kejujuran dan keselamatan, antara profesionalisme dan perasaan.

Cinta yang Tidak Pernah Diucapkan Secara Langsung

Can This Love Be Translated? tidak mengandalkan dialog romantis klise. Justru sebaliknya, romansa tumbuh dari hal-hal yang tidak diterjemahkan, kalimat yang ditahan, dan makna yang sengaja diubah.

Ho-jin perlahan menyadari bahwa ia bukan hanya bertanggung jawab atas citra Mu-hee, tetapi juga atas perasaannya sendiri. Ia terjebak dalam posisi unik: terlalu dekat untuk bersikap netral, namun terlalu profesional untuk mengakui apa yang ia rasakan.

Sementara itu, Mu-hee menghadapi dilema lain. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mendengar dirinya tanpa topeng publik. Namun semakin ia mempercayai Ho-jin, semakin besar pula risiko jika kejujuran itu suatu hari diterjemahkan apa adanya.

Drama Romantis dengan Premis yang Dewasa

Drama ini menggabungkan komedi ringan dan romansa dengan pendekatan yang dewasa. Humor muncul dari kesalahpahaman bahasa, perbedaan budaya, dan situasi canggung di balik layar acara internasional. Namun di balik itu, terdapat refleksi tentang identitas, kontrol narasi, dan harga dari sebuah kejujuran.

Dengan jumlah episode yang relatif ringkas, Can This Love Be Translated? fokus pada dinamika karakter dan percakapan, bukan konflik besar yang berlebihan. Ketegangannya halus, tetapi konsisten.

Informasi Produksi Drama Can This Love Be Translated?

Drama ini ditulis oleh Hong Jeong-eun dan Hong Mi-ran, duo penulis yang dikenal piawai meramu romansa dengan sentuhan emosional dan dialog kuat. Yang tidak terlupakan adalah Hotel Del Luna. Disutradarai oleh Yoo Young-eun, serial ini menghadirkan nuansa visual yang elegan dan ritme cerita yang tenang.

Selain Kim Seon-ho dan Go Youn-jung, drama ini juga dibintangi oleh Fukushi Sota, Lee Yi-dam, Choi Woo-sung, dan Baek Joo-hee. Can This Love Be Translated? tayang perdana pada 16 Januari 2026 di Netflix, dengan total 12 episode dan durasi sekitar 1 jam 6 menit per episode. Drama ini memiliki rating usia 15+.

Ketika Pertanyaannya Bukan Lagi Tentang Bahasa

Pada akhirnya, Can This Love Be Translated? bukan sekadar kisah tentang interpreter dan selebritas. Drama ini mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apakah perasaan bisa diterjemahkan tanpa kehilangan maknanya? Dan jika bisa, apakah semua perasaan memang perlu diterjemahkan?

Di antara kata-kata yang diubah, disembunyikan, dan dipilih dengan hati-hati, cinta tumbuh dengan caranya sendiri—diam, rumit, dan penuh risiko. Sebuah romansa yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tetapi selalu terasa.

Can This Love Be Translated? Episode 12 Recap & Ending Explained: Cinta, Luka Lama, dan Perpisahan yang Ditunda

Related

Tinggalkan komentar