Ujian Nasional, Kenapa Menjadi demikian Sulit ?

Ujian Nasional saat ini menjadi momok yang menakutkan. Bukan saja bagi anak/siswa dan guru sekolah, tapi juga orang tua. Semua pihak ikut tegang ketika anak bersiap mengikuti UN. Bahkan anak pintar pun deg-degan, karena mereka tahu, “nasib” juga ikut menentukan kelulusan mereka.

Hal ini tidak lepas dari peristiwa beberapa tahun lalu. Seorang anak pintar di sebuah SMA di Jakarta, yang telah lolos PMDK di sebuah perguruan tinggi terkenal, ternyata tidak lulus UN. Aneh bukan ?

Terlepas dari semua hal yang ditakuti, sebenarnya dari awal, ada sebuah respon yang saya rasa salah dari kita semua. Ketika aturan baru mengenai Ujian Nasional ini digulirkan, respon yang muncul dari kalangan guru, akademisi dan banyak lainnya, membuat segalanya jadi runyam. Kenapa ?

Saat UN ini dilaksanakan untuk pertama kali,semua pihak yang mengetahuinya langsung meresponinya dengan kata-kata bahwa “UN itu SULIT!!”. Media massa juga memberitakan pro-kontra UN ini, dengan banyak pendapat dan pernyataan bahwa UN ini SULIT. Dan, yang lebih membuat siswa semakin yakin bahwa UN SULIT, guru-guru di sekolah juga memperlakukan UN ini seperti sebuah hal yang LUAR BIASA SULIT.

Hasilnya, belum lagi UN dilaksanakan, yang ada dalam pikiran siswa dan orang tua serta guru, SULIT untuk melaksanakan UN. Bahkan sebelum soal dibagikan, siswa telah menganggap bahwa UN itu suatu tes yang SULIT, sehingga ketika mengerjakan pun, memori otak mereka telah sepakat bahwa ini SULIT, susah mengerjakannya, ini bikin pusing … dan sebagainya.

Saya bukannya mau sok tahu atau apa. Namun, saya hanya ingin share bahwa, sebenarnya, salah satu hal yang membuat UN menjadi demikian SULIT adalah kita sendiri. Kalau kita menyikapi UN sama seperti kita menyikapi ulangan biasa, saya rasa, akan ada banyak kreasi jalan keluar dari para guru bidang studi, bagaimana agar siswa mampu menghadapi UN. Bukannya terus memberitahu siswa bahwa UN itu SULIT. Daripada ini yang dilakukan, akan lebih baik bila para guru dan juga orang tua menyikapi secara positif. kemudian bersama merumuskan strategi agar siswa tidak TAKUT dulu dengan UN.

Menurut saya, jika UN ini disikapi lebih positif, hasil yang akan dicapai pun menjadi positif.

Semoga manfaat ….

3FE7YG9FD5MN

  • Yang masih ada dibenak saya mas, kenapa diujian nasional harus bahas indo, matematika, bahasa inggris, ipa / ips / kejuaruan.
    percuma dong pelajari ppkn, dll

    • 😀 Mungkin itulah kemampuan dasar seorang murid mas .. 🙂
      Kalau ada guru yang membaca artikel ini, silahkan menjawab pertanyaan mas Ronny … 🙂

  • Waktu sy masuk SMK merupakan awal UN diberlakukan, yang sebelumnya bernama ebtanas, memang awalnya seperti sulit, tp setelah dapat soalnya, semuanya serasa seperti ujian2 catur wulan.

    • Iya mas.. sebenarnya memang sama walau tingkat kesulitannya memang lebih dibanding dulu .. 🙂
      Pemberitaan itu seperti seolah 'mengkondisikan' nya mas… semua jadi terasa sulit… respon siswa jadi terbawa oleh media ..