Advertise Try to Advertise here ! You'll be happy ... :)

Tips Menghadapi Suami atau Ayah yang Overprotektif

Sifat suami yang terlalu melindungi justru bisa jadi pemicu keretakan perkawinan. Melindungi Memang Harus, tapi Jangan Berlebihan. Bagaimana jika suami kita adalah suami sekaligus ayah yang overprotektif ??? Berikut Tips Menghadapi Suami atau Ayah yang Overprotektif …

Sekali lagi, sifat suami yang terlalu melindungi justru bisa jadi pemicu keretakan perkawinan. Iya, Wanita mana yang hatinya tidak melambung saat suaminya memberikan perhatian ekstra, dan perlindungan. Ketika perhatian yang diberikan suami terlalu berlebihan, hati-hati, Anda justru akan merasa terkungkung dan kehilangan kebebasan.

Menurut Cherie Carter-Scott dalam bukunya ‘If Love is a Game, These are the Rules’, anda bisa melihat tanda-tanda pria overprotektif seperti berikut :

  1. Bila Anda ingin ikut suatu kegiatan, suami harus selalu mendampingi Anda. Jika ia tidak bisa menemani Anda, dia bisa meminta Anda supaya mau mengorbankan teman, aktivitas dan keluarga, ketimbang Anda pergi tanpa dirinya
  2. Dia selalu curiga kalau Anda diajak pergi sama pria lain atau teman kumpul Anda. Dan selalu mengawasi kegiatan Anda serta maunya ‘menempel’ terus.
  3. Dia melarang Anda bekerja atau melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang banyak.
  4. Dia juga sering menuntut dan memaksa Anda menurutinya.
  5. Jurus terakhir yang sering bikin tertipu, dia bisa bersikap sangat manis setelah marah. Sering mengatakan nggak bisa hidup tanpa Anda dan takut kehilangan Anda.

Nah Jika tanda-tanda ini dimiliki suami, perlu Anda sadari, sikap overprotektif bisa berubah menjadi posesif. Anda tak mau hal itu terjadi, kan ? Ini solusinya :

Sejak dini Anda mengoreksi tuntutan suami. Jika terasa memberatkan, ungkapkan sejak awal, jangan ngomel di belakang. Namun, sebelumnya Anda pun perlu introspeksi diri dulu, apakah tuntutan suami itu cukup masuk di akal dan memiliki kebenaran.Cobalah kemukakan persoalan ini pada pasangan dengan cara halus. Beri pengertian padanya, bahwa meski suami memberikan kebebasan, Anda tidak akan merusak kepercayaan darinya. Dan…Negosiasi untuk menjembatani perbedaan pandangan. Ada pun negosiasi bisa dilakukan melalui tindakan. Misalnya, Anda yang biasanya jarang menghubunginya saat dia di kantor, tiba-tiba harus menjadi lebih sering mengirimkan SMS, misalnya yang berisi aktivitas Anda.  Lakukan berulang kali agar ia menangkap isyarat pelan-pelan dari Anda.

Overprotektif merupakan sifat alamiah

Sifat overprotektif merupakan sifat alamiah manusia yang sudah terbentuk sejak bayi, hingga usia 2-3 tahun. Seiring waktu, perkembangan kepribadian manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa akan terus bergerak dan berubah. Biasanya orang yang punya sifat protektif, dimasa kanak-kanaknya selalu mau menjaga barang yang dimilikinya secara berlebihan. “Dalam situasi hubungan keluarga antara kakak dan adik, mungkin sang adik selalu dimenangkan terhadap kakaknya atau sebaliknya. Hal tersebut dapat menjadi penyebab seseorang bersifat posesif dalam hubungannya kelak”, ungkap Viera Adella, pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.

Ditambahkan Viera, orang yang memiliki kepribadian posesif cenderung akan overprotektif. Karena sifat overprotektif merupakan sifat yang sudah ada dalam diri manusia. Overprotektif merupakan orang yang cenderung merasa apa yang menjadi haknya itu tidak boleh dimiliki oleh orang lain.

“Perkembangan kepribadian manusia dari kecil hingga dewasa bergeraknya dari ‘apa yang kumau’ ke ‘apa yang orang lain mau’ atau bisa dikatakan dari egois ke ‘mau berbagi'”, tutur Viera.

Biasanya yang menjadi penyebab seseorang overprotektif karena terdapat krisis dalam dirinya. Krisisnya adalah rasa takut kehilangan, yang biasanya muncul dari rasa cemas yang berlebihan. Tidak hanya itu, krisis juga bisa muncul pada saat seorang pria telah menjalin hubungan dengan seorang wanita, tetapi ternyata seorang wanita itu adalah orang yang sangat ia sukai dan diharapkan. Namun, ternyata wanita tersebut memiliki banyak pengagum sehingga muncul perilaku posesif.

Kenali pasangan. Menghadapi karakter pasangan yang overprotektif, komunikasi menjadi hal yang paling penting. Karena itu, sebelum memasuki fase pernikahan, hal ini bisa ditelusuri semasa pacaran. Pengenalan semasa pacaran ini sangat penting untuk mengetahui karakter pasangan. Mengajak ngobrol lebih dalam untuk mengetahui sifat overprotektif pasangan.

“Kalaulah dalam pacarannya dia tahu bahwa pasangannya merupakan orang yang overprotektif, dan tidak punya kemampuan untuk meng-handle-nya, pilihannya hanya dua, pertama belajar untuk mengenali, kedua dengan memilih mencari yang lain”, terang Viera.

Sementara itu, menurut Mira Damayanti Amir Psi, konselor dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia bahwa sifat overprotektif biasanya telah terdeteksi sejak pacaran.

“Pasangan yang overprotektif bisa diketahui ketika kita menjalani masa pacaran, kita bisa mengenal semua sifat pasangan”, ungkap wanita yang murah senyum ini.

Umumnya sikap ini berpotensi muncul diawal-awal masa pacaran sebagai bentuk usaha untuk memaknai rasa “saling memiliki”. Trauma atau pengalaman buruk di masa berpacaran sebelumnya dapat memicu muncul dan berkembangnya sikap overprotektif. Misalnya, pengalaman dikhianati atau ditinggal selingkuh pasangan. Karenanya, menjadi overprotektif dengan harapan pengalaman traumatis di masa lalu tidak berulang kembali.

Kesenjangan yang mencolok antarpasangan dapat pula memicu sikap overprotektif. Misalnya, seorang pria yang tampilannya biasasaja, namun memiliki pacar yang cantik jelita. Hal tersebut dapat memunculkan pemikiran-pemikiran yang negatif akan pasangannya, seperti banyak pria tampan yang pasti naksir pacarnya. Karenanya, semampu mungkin akan membatasi pacarnya sedemikian rupa sehingga tidak akan berpaling dari dirinya yang biasa saja.

Dalam kaitan dengan gender, kaum pria cenderung overprotektif, manakala merasa lebih dibanding pasangannya, sehingga merasa memiliki hak untuk mengatur pihak perempuan. Nah, jika sifat overprotektif ini tidak dibatasi saat masih pacaran, akan berlanjut saat menikah.

Beberapa tanda seorang suami yang overprotektif antara lain :

  1. Bersikeras mengetahui keberadaan pasangan. Tanda yang paling jelas dari suami yang overprotektif adalah selalu ingin mengontrol hidup istri. Jika ia tidak dapat menghubungi istri melalui telepon, ia akan menginterogasi istri untuk mendapatkan jawaban rinci.
  2. Menghubungi berkali-kali. Ia akan menghubungi istri berkali-kali dalam sehari hanya untuk memastikan bahwa istri baik-baiksaja. Tentusajaini bisa mengganggu, apalagi bila ia sampai mengirim SMS ataupun menelepon bertubi-tubi, padahal istri sedang bertemu klien atau meeting di kantor. Lama kelamaan, tentu istri tidak merasakan hal ini sebagai perasaan cinta. Sikap overprotektif bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman.
  3. Menganggap istri adalah teman satu-satunya. Baginya, istri adalah segalanya. Suami juga menuntut istri berlaku demikian. Semua hal yang dilakukan harus dilalui berdua. Lamakelamaan, hal ini tentu bisa membuat istri sulit bergerak. Jika istri merencanakan jalan-jalan dengan teman-teman atau sekedar memanjakan diri, si dia akan menafsirkan bahwa istri mengabaikannya. Ia akan marah dan mungkin akan membuat istri merasa serba salah.
  4. Selalu mengatur dalam segala hal. Seorang wanita membutuhkan ruang untuk bisa melakukan banyak hal, dan yang terpenting adalah saat berbusana. Tapi, pria overprotektif akan selalu ingin mengatur soal urusan pakaian pasangannya.

Jadi sikap overprotektif tidak hanya terjadi saat pacaran, tetapi bisa terjadi setelah menikah. Biasanya hal ini terjadi karena suami merasa perilaku istri yang berubah (misalnya, istri yang mulai kurang memperhatikan suami, atau ada indikasi istri berselingkuh), ungkap Mira.

Karena itu, sikap overprotektif suami tidak selalu negatif, selama istri memahami bahwa kepedulian yang dilakukan suami demi kebaikan bersama.

Tips untuk meminimalisir sifat overprotektif suami :

  1. Jalin komunikasi yang baik. Ini merupakan kunci sukses dalam sebuah hubungan. Dan ternyata, komunikasi juga merupakan salah satucaraampuh untuk menghilangkan sifat overprotektif. Komunikasi juga dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman antara anda dan pasangan.
  2. Percaya pasangan. Belajarlah untuk memberikan kepercayaan terhadap istri. Apa artinya sebuah hubungan tanpa didasari rasa kepercayaan ? apapun yang dilakukan selalu dicemburui, dicurigai. Terkadang sifat over protektif timbul karena kita tidak bisa mempercayai pasangan.
  3. Hukuman atau ancaman. Misalnya dengan ancaman bila tidak berubah maka sang istri akan pergi meninggalkan pasangan.

Ada sebuah cerita,

Beberapa tahun lalu, waktu saya masih jomblo, saya selalu tertawa mendengar seorang teman kantor bercerita tentang suaminya yang amat protektif kepada putri sulung mereka. Salah satunya tentang kejadian saat rumah teman saya ini, sebut saja Mbak A, sedang direnovasi.

Di halaman depan, ada sebuah keran air yang tidak pernah digunakan. Mbak A lantas mengusulkan agar keran tersebut dilepas dan salurannya ditutup agar tidak mengganggu pemandangan, plus memudahkan mereka parkir mobil. Reaksi suaminya : “Jangan, ah. Nanti kan kalo si Mawar (nama putri sulung mereka) sudah besar dan didatangi pacar, keran itu berguna banget. Aku bisa pura-pura menyiram tanaman di halaman dari keran itu saat mereka pacaran di teras.”

Mbak A geleng-geleng kepala, saya pun ngakak luar biasa. Segitu protektifnya suami si Mbak A, sampai anak pacaran saja mau dimata-matai, pakai modus siram-siram tanaman !

Papa saya sih, untungnya nggak separah suami Mbak A kepada saya dan adik saya. Tapi, memang si Papa tidak pernah ramah kepada teman-teman kami yang berjenis kelamin lelaki. Jadi nggak usah pacar ya, teman doang pun dijutekin, hahaha…Sampai-sampai teman-teman lelaki kami sering salting kalau main ke rumah. “Gue aja yang cuma berteman sama lo dijutekin Ra. Gimana pacar lo?” tutur seorang teman saya saat kuliah.

Ealah sekarang, saya melihat indikasi serupa pada suami saya. Ia super duper protektif terhadap Nadira. Sehari-hari, Nadira ditemani oleh pengasuhnya yang khusus menemani dia, tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itupun suami saya tidak bisa melepas begitu saja.

Alhasil, setiap hari, Nadira plus pengasuhnya harus dititipkan ke rumah mertua saya, yang jaraknya cukup dekat dari rumah kami. Kalau mertua berhalangan, Nadira plus pengasuhnya pun tinggal di rumah. Jika ini terjadi, suami saya bisa menelepon setiap 30 menit-1 jam/kali. Lalu, ia akan minta saya buru-buru pulang untuk mengecek apakah Nadira baik-baik saja. Katanya, dia takut Nadira dibawa pergi ke luar rumah dan terjadi apa-apa. Padahal rumah kami tepat berada di depan pos satpam, lho. Lalu, saat ini Nadira sudah bersekolah di sebuah PGTK dekat rumah. Saking dekatnya, sekolah bisa ditempuh dengan naik sepeda atau jalan kaki. Tapi, suami saya keukeuh meminta Nadira naik mobil jemputan.

Waktu masih playgroup yang waktu sekolahnya 3x/minggu, saya masih bisa meredam keinginan suami dengan berbagai alasan. Tapi sekarang, karena Nadira sudah masuk TK A yang waktu sekolahnya 5x/minggu, suami tambah gencar melontarkan idenya tentang mobil jemputan itu. Mertua dan orangtua saya sih sudah geleng-geleng kepala sambil tertawa mendengar ide tersebut. Lebay banget soalnya. Tapi suami tetap bergeming. Aduuhhhh… *tutup muka*

Itu untuk masa sekarang, ya. Untuk masa depan, suami saya sudah berkeinginan membelikan Nadira mobil beserta supir untuk mengantar dan menjemputnya sekolah. “Aku akan bekerja keras supaya keinginan itu terwujud. Nanti, kalo Nadira sudah kerja, sesekali aku antar jemput juga, ah. Pasti dia senang,” katanya. Waduuhh… Saya pun langsung pusing. Kebayang deh masa muda Nadira yang tidak se-fun masa muda saya dulu karena punya Papa yang overprotektif. Lalu, gimana dia bisa punya pacar? Wong Papanya membayang-bayangi terus, hahaha… Sekarang, saya terus menerus berdebat dengan suami soal sifat overprotektifnya ini. Mudah-mudahan seiring waktu, sifat tersebut bisa agak mereda. Kasihan kan Nadira kalo jadi kuper …

Bagaimana menurut Anda ?

SEMUA orangtua pasti ingin melindungi putra putrinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tanpa disadari, banyak juga orangtua yang cenderung over protektif pada anaknya. Padahal, hal ini cenderung memberi efek negatif pada anak. Anak-anak bisa merasa bahwa dunia bukanlah tempat yang aman bagi mereka untuk bersosialisasi dengan orang lain. Atau anak bisa saja mengalami masalah perilaku atau emosional seperti cemas dan takut. Bahkan, saat dewasa, mereka cenderung tidak percaya diri dan tidak mandiri. Sebaliknya, pengasuhan yang tidak terlalu over protektif justru bisa membuat anak-anak siap menghadapi tantangan yang akan ia hadapai nanti. Mereka pun jadi lebih berani, kompeten, dan percaya diri ketika mengambil suatu keputusan.

Sikap protektif atau melindungi memang wajar jika ditunjukkan oleh orangtua pada anaknya. Namun dampaknya bisa jadi buruk jika orangtua melakukannya secara berlebihan. Ibu yang over protektif terkadang ikut masuk dalam memusatkan perhatiannya pada keadaan fisik, mental, spiritual, dan kadang-kadang kehidupan sosial anaknya.

Dengan mengkhawatirkan kemungkinan akibat negatif dari setiap tindakan maupun keadaan di sekitar si anak. Mungkin saja dengan sikap over protektif sang ibu menjadi juara bagi kesehatan dan keselamatan anaknya. Dengan mengetahui mengenai kemungkinan bahaya yang dihadapi oleh anaknya di dunia nyata. Tapi, menurut Yanti Manginteno S. Psi, sikap over protektif orangtua, membuat anak jadi tidak mandiri.

Selain itu, anak juga akan sering takut salah karena terlalu banyak aturan yang diberikan oleh orangtuanya. “Akhirnya anak jadi tidak leluasa mengekspresikan dirinya. Sehingga menimbulkan pergolakan batin, dengan sering merasa tertekan,” kata Yanti.

Biasanya, over protektif banyak dilakukan oleh ibu. Karena ikatan batin ibu dan anak yang cukup kuat. Biasanya, ibu dengan tipe seperti ini mencegah anaknya melakukan sesuatu tanpa pengawasannya. Setelah dewasa, terbentuk anak yang akan selalu bermain aman bila dia harus mengambil risiko. Ketika anak tumbuh besar dan berada di lingkungan yang jauh dari ibunya, anak akan menjadi pemberontak. Karena merasa bebas dan jauh dari sang ibu.

Bisa jadi, over protektifnya orangtua disebabkan pengalaman masa kecil. Orangtua bisa saja mengalamai pengalaman yang sama. “Protektif itu harus, namun jangan berlebihan,” tegas Yanti. Jika over protektif dengan kondisi ini mereka cenderung memiliki rasa takut yang tidak wajar. Orangtua juga akan selalu membayangkan hal-hal buruk yang bisa terjadi pada anaknya. Hingga selalu berpandangan negatif dengan langkah atau tindakan yang akan diambil oleh si anak.

Kecenderungan untuk meragukan atau tidak percaya pada keputusan yang dibuat oleh anak. Dampak buruknya, anak akan menjadi pribadi yang selalu berburuk sangka dan kurang percaya diri pada kemampuannya sendiri. Anak akan menjadi orang yang lebih tertutup dan merasa selalu rendah diri dan tidak terlihat antusias dalam melakukan suatu kegiatan.

Sifat suami yang terlalu melindungi justru bisa jadi pemicu keretakan perkawinan Anda. Melindungi Memang Harus, tapi Jangan Berlebihan. Bagaimana jika suami kita adalah suami sekaligus ayah yang overprotektif ???