Tips Mengatasi Stress pada Anak

Membaca judul tips mengatasi stress pada anak, dalam benak Anda mungkin bertanya-tanya, “Anak bisa stress to ?” atau, “Emang anak bisa stress ?” … Nah … kalau itu yang menjadi pertanyaan Anda, ada baiknya membaca artikel yang akan kami bagikan kali ini. Kami akan berbagi soal stress pada anak dan bagaimana mengatasinya.

Oya sahabat MASASHA, apakah anak Anda memiliki banyak kegiatan di luar jam sekolah ? Misalnya nih, les piano, berenang, les bahasa Inggris, bimbel dan sebagainya ? Dan … karena banyaknya kegiatan itu, anak Anda lalu kehilangan waktu bermain dengan anak-anak seusianya ?

Nah …, mungkin ada baiknya sebagai orang tua, kita berpikir ulang mengenai semua kegiatan itu. Kenapa ? Karena … bukan tidak mungkin, bahwa karena kegiatan yang terlalu banyak itu, membuat anak Anda stress. Hah !! Emang iya ??!

Sahabat, Ratih Ibrahim, seorang psikolog dari lembaga psikologi Personal Growth Jakarta mengatakan, bahwa fenomena seperti itu, saat ini umum terjadi. Orang tua menstimulasi anak secara berlebihan karena beralasan supaya anak-anak mereka dapat bersaing menghadapi tantangan global. Masalah ini dapat berlaku, karena komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak, kurang baik. Nah akibatnya, yang terjadi adalah si anak menjadi stress.

Sebuah data menunjukkan bahwa 4 dari 5 anak yang dibawa orang tuanya untuk berkonsultasi ternyata mengalami stress berat. Kebanyakan dari mereka stres karena tuntutan orang tua yang terlalu berlebihan terhadap prestasi di sekolah atau dikenal dengan istilah over-stimulating. Yaitu sebuah keadaan di mana  anak yang masih terlalu muda, langsung disuruh les ini-itu,  padahal, kapasitas otaknya belum memenuhi. Namun apakah hanya karena masalah padatnya jadwal les saja yang membuat stress pad anak ?

Tips Mengatasi Stress pada Anak

Tidak hanya orang tua, anak pun dapat terkena stress

Stress bukan hanya milik orang dewasa saja, stress bisa juga dialami oleh anak-anak.  Dan tahukah Anda, bukan cuma perokok saja yang punya istilah aktif-pasif, kali ini penderita stress pun ada yang pasif. Ini artinya stress dapat ditularkan ke orang lain yang sebenarnya tidak perlu ikut-ikutan stres. Ya, Anda dapat menularkan stres ke orang sekitar—teman atau keluarga, bahkan anak Anda tidak luput jadi korban ! Bagaimana bisa stres menular ke anak ?

Banyak orang tua telah mengerti bahwa stres dapat berdampak buruk bagi anak mereka, tapi sayangnya, mereka tidak sadar seberapa banyak dampaknya. Stres biasanya diungkapkan secara verbal maupun nonverbal, dan sama seperti asap rokok, stres menyebar ke seluruh rumah tangga lalu meracuni siapapun yang dijangkaunya. Menurut The American Psychological Association, 91 persen anak-anak mengatakan bahwa mereka bisa mendeteksi stres berdasarkan tingkah laku orang tua—dengan berteriak, berdebat, atau menjadi terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sebagai akibatnya, 39 persen anak mengakui mereka menjadi khawatir atau sedih, dan 33 persen lain merasa frustasi saat menyaksikan perilaku orang tua mereka. Stres dapat digambarkan seperti polusi lingkungan, begitulah yang dikatakan oleh Dr. Brad Gilbreath, seorang profesor di Indiana University dan Purdue University. Ia menjelaskan bahwa reaksi serta kekacauan yang dihasilkan satu orang yang stres dapat turut membuat orang lain merasa tertekan.

Stress pada anak itu berdampak pada fisik dan emosi. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh  University of Southern California, anak-anak yang besar dalam lingkungan penuh tekanan lebih rentan terserang kanker paru-paru akibat polusi udara. Kenyataannya, peningkatan polusi udara hampir tidak ada pengaruhnya bagi anak yang tinggal bersama keluarga yang lebih tenang. Perkembangan penyakit asma di usia dini bisa jadi juga berkaitan dengan stres. Studi yang dipublikasikan di Pediatrics Magazine mengungkapkan adanya faktor selain keturunan yang memicu asma pada anak. Bayi yang dibesarkan oleh orang tua yang bermasalah dengan stres dalam bulan-bulan pertamanya beresiko lebih besar menderita asma. Sementara itu emosi pun bisa terkena imbas dari stress.

Suatu penelitian menemukan hampir 65 persen anak dengan orang tua yang terlalu cemas cenderung memiliki gangguan kecemasan. Juga, orang tua penderita gangguan kecemasan 7 kali lebih mungkin mewariskan gangguan tersebut kepada anaknya. Pada usia remaja, stres yang ditularkan orang tua dapat berdampak buruk bagi prestasinya di sekolah. Remaja yang tinggal dalam lingkungan penuh stres tidak sanggup berkonsentrasi di sekolah selama setidaknya 2 hari setelah mengalami suatu insiden yang bikin stres—inilah yang ditemukan dalam riset oleh University of California. Riset tersebut juga menemukan adanya penurunan pencapaian akademik dari kelas 9 sampai 12 pada anak yang keluarganya terus menerus berada dalam situasi penuh tekanan. Bahkan mereka tidak bisa menikmati pelajaran olahraga yang seharusnya disukai oleh anak remaja akibat stres.

Stres yang Anda alami dapat berdampak buruk bagi anak lebih dari yang Anda sadari. Renungkanlah hal ini dan buatlah langkah-langkah agar jangan sampai menularkan stres pada anak. Anak sudah cukup tertekan dengan situasi di sekolahnya, Anda tidak perlu menambahkan bebannya dengan membawa pulang ke rumah masalah di kantor. Seringkali orangtua nya yang bermasalah anak terkena imbas nya, merasa tertekan dan akhirnya stres. Terkadang orangtua tidak menyadari dan merasa hal biasa melihat perubahan pada anak. Kita harus lebih peka terhadap perkembangan anak-anak kita. Setuju, ya?

Pencetus stress pada anak

Ada berbagai macam pencetus stress pada anak, seperti yang kami kemukakan di awal tadi. Namun, masih ada banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya stress pada anak.  Apa sajakah itu ?

Penelitian dan para ahli kesehatan anak mengungkap berbagai hal sebagai penyebab stress pada anak :

1. Percepatan perkembangan anak. Bagi banyak orang tua murid dan guru, Taman Kanak-kanak (TK) merupakan tingkat pertama bersekolah bagi anak. Bertahun –tahun yang lalu, TK hanya hanya membimbing untuk menggambar dan menyusun balok. Sekarang, TK memberikan pekerjaan rumah (PR) selama rata-rata 25 menit per hari, sedangkan bagi murid kelas 1 dan 2, jumlah PR menjadi 3 kali lipat dari. Satu hasil penelitian lain oleh Universitas Virginia menemukan bahwa waktu yang dihabiskan untuk belajar membaca dini di TK meningkat sebesar 25% sejak tahun 1998, sedang waktu yang diluangkan untuk kesenian, musik dan pendidikan fisik mengalami penurunan yang drastis.

2. Self-esteem. Faktor pencetus anak menjadi stress berbeda-beda dan disesuaikan dengan karakteristik anak itu sendiri. Menilik dari teori psikolog anak, usia 3-5 tahun adalah usia dimana anak sedang semangat-semangatnya mengeksplorasi diri dan senang mengenal dunia yang baru dia alami. Dalam prosesnya ternyata anak banyak dilarang atau diremehkan dapat membuatnya merasa cemas dan kehilangan self-esteem . bila sudah merasa cemas dan tidak bisa mengungkapkan , hal ini menjadi menumpuk dan membuatnya stress.

3. Awal sekolah. Lingkungan baru, teman baru, ketemu banyak orang dewasa baru, situasi belajar baru membuatnya harus beradaptasi. Bila kemampuan beradaptasinya kurang baik akan menyebabkan anak stress.

4. Perlakuan tidak adil. Biasa terjadi pada saat akan memiliki adik baru atau disebut dengan sibling rivalry. Anak merasa orangtuanya tidak sayang lagi, pilih kasih, dan ia merasa terancam dengan datangnya adik baru. Karena itu orangtua perlu mempertimbangkan waktu yang tepat kapan memiliki anak lagi.

5. Tekanan  belajar, jadwal belajar  dan ulangan yang berlebihan. Karena hal ini, ada anak yang enggan untuk berangkat ke sekolah.

6. Tontonan dan berita media yang berlebihan. Ya, di satu sisi kita berterima kasih kepada jaringan dan konektifitas 24 jam yang terus menerus saat ini. Namun anak-anak menjadi terpapar pada berita-berita mengerikan di usia muda. Dan jaman ini, anak-anak kecil lebih banyak dipertontonkan pada kekerasan dan seksualitas orang dewasa yang dibungkus sebagai acara entertainment. Dan seringkali ditonton tanpa hadirnya orang tua mereka. Fenomena ini diperparah dengan hadirnya smartphones dan tablet yang penggunaannya di kalangan anak-anak bak roket melangit. Orang tua harus bisa menyaring informasi atau tontonan semacam ini, lihatlah konten berita atau tontonan yang dilihat oleh anak-anak. Perhatikan kepentingan mereka. Para orang tua harus hadir dan lebih perduli pada apa yang menjadi tontonan anak-anak.

7. Bullying dan pelecehan.  Sebelum adanya internet, bila anda tidak diundang di satu pesta ulang tahun, anda akan mengetahuinya tanpa melihat foto-foto di Facebook yang memperlihatkan kegembiraan teman-teman yang tidak anda alami karena tidak diundang. Catatan yang tidak menyenangkan dari tangan ke tangan jaman dulu, sekarang beralih ke tulisan-tulisan yang melecehkan yang tersebar secara viral di internet hanya dengan satu klik pada keyboard. Padahal  semua yang sudah diunduh ke internet tidak akan hilang dan beredar terus ke mana saja.

8. Kurang tidur. Tekanan sekolah dan daya tarik media sosial akan sedikit demi sedikit mengurangi kemanjuran obat stress yang penting, yakni tidur. Para orang tua mengatakan bahwa PR dan kegiatan sesudah sekolah mengganggu tidur sang anak. Dan hampir 3 dari 4 anak berumur 6–17 tahun memiliki satu perlengkapan elektronik di kamar tidur mereka, yang tentu saja mengurangi waktu tidur malam mereka dengan hampir 1 jam. Penelitian menunjukkan bahwa pengurangan waktu tidur sedikit saja dapat mempengaruhi daya ingat, nalar dan suasana hati.

9. Penyakit kronis. Ya, kehilangan waktu sekolah dan kegiatan bermain karena kunjungan kontrol ke dokter, efek samping pengobatan dan ketidak mampuan melakukan sesuatu yang dapat dilakukan anak-anak lain dapat merupakan stress bagi anak dengan penyakit kronis.

10. Masalah keluarga.  Masalah dalam keluarga seperti orang tua yang sakit, berpisah atau bercerai benar-benar dapat menyebabkan stress pada anak. Angka perceraian bertahan pada angka yang cukup stabil selama sekitar satu dekade, di mana terdapat sekitar 1,5 juta anak setiap tahun yang hidup dengan orang tua yang bercerai. Orangtua yang bercerai bisa membuat anak jadi stress. Anak merasa tidak memiliki seseorang yang bisa dijadikan teladan atau panutan. Kelak dewasa nanti anak tidak punya gambaran bagaimana berinteraksi dan menjalin hubungan yang baik dengan pasangannya.

11. Stress pada orang tua. Ya, seperti yang kami kemukakakan di awal, stress orang tua bisa menular pada anak.Keluarga merupakan pendukung bagi anak. Namun bila keluarga berjuang untuk dan tidak dapat memainkan peran itu, maka anak akan bertambah tertekan.

Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab anak menjadi stress. Lalu bagaimana mengenali anak yang stress ?

Mengenali Anak yang stress

Setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda, begitu pula cara menunjukkan ketidaknyamanannya karena stress. Beberapa perubahan perilaku juga kerap terjadi, yang biasa terlihat jelas adalah :

1. Ingin Bolos Sekolah. Anak tidak ingin masuk sekolah mungkin hal yang wajar apabila dilakukan sesekali, akan tetapi apabila terus-terusan terjadi, orangtua harus waspada. Banyak hal yang dapat membuat anak stress di sekolah dan membuatnya ingin bolos. Misalnya ujian, intimidasi di sekolah, bullying, atau tekanan dari orangtua dan guru.

2. Prestasi Menurun. Menurunnya prestasi belajar anak merupakan salah satu tanda yang dapat dilihat orangtua untuk mengetahui anak sedang stress atau tidak. Hal ini dikarenakan stress yang dialami anak dapat mempengaruhi prestasi belajarnya, misalnya tidak mengerjakan tugas, nilai ujian anak yang menurun drastis dan tidak seperti biasanya. Data dari National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) menunjukkan bahwa kekhawatiran akademik adalah penyebab stress pada hampir 50% anak sekolah.

3. Kebiasaan Makan Berubah. Makanan seringkali menjadi pelarian ketika anak stress. Ada dua hal yang dapat terjadi, yaitu anak lebih banyak makan agar mereka mendapatkan kenyamanan atau anak justru tidak nafsu makan karena sedang tertekan.

4. Anak Menyatakan Dirinya Sakit Secara Fisik. Sakit fisik memang dapat timbul akibat stress, seperti sakit kepala atau sakit perut. Apabila hal ini sering terjadi pada anak  atau intensitasnya meningkat, bisa jadi anak mengalami stress. Anak yang cenderung gelisah juga harus lebih diperhatikan, karena berpotensi  menunjukkan sedang stress.

5. Tidak Tidur Sepanjang Malam. Anak yang mengalami stress cenderung memiliki kualitas tidur yang buruk. Jika di siang hari anak cepat lelah atau mengantuk, perlu diliihat kembali bagaimana pola tidur malam anak. Kondisi stress juga dapat menyebabkan anak mengompol pada malam hari.

6. Mempunyai Pandangan Negatif. Anak yang sedang stress seringkali berusaha mencari perhatian, baik itu dengan terlihat sedih, bahagia, atau justru nakal. Oleh karena itu, sebagai orangtua harus lebih peka menghadapi kondisi tersebut. Apabila tanda-tanda di atas terlihat pada anak, coba dekati dan ajak anak mengobrol. Jika anak mengatakan tidak ada apa-apa, maka ajak mereka memilliki quality time bersama Anda sehingga anak bisa lebih terbuka.

Stress pada anak yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan dampak negatif bagi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak negatif dari stress lebih banyak terjadi pada anak berumur di bawah 10 tahun. Stress yang terjadi secara berkepanjangan sangat membahayakan kesehatan dan perkembangan mental anak, seperti : Menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit dan infeksi, Merusak sistem pencernaan, Menghambat pertumbuhan, Merusak emosi, perkembangan fisik, dan sel otak anak. Itulah beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh kita, para orang tua ketika mendapati beberapa ciri-ciri ada pada anak kita–bisa jadi ia terkena stress. Dan langkah apa sajakah yang harus kita lakukan ?

Langkah-langkah yang harus dilakukan

Untuk memenuhi tuntutan zaman, orang tua dan anak harus saling bekerjasama. Jangan hanya membebankan masalah studi pada anak ! Lantas, kita sebagai orang tua hanya menuntut hasil terbaik dari mereka. Di zaman serba canggih ini, setiap keluarga harus bisa beradaptasi dengan perubahan. Anak-anak sangat rentan terhadap stres dan depresi. Sebagai orang tua, Anda tentu bisa memahaminya dari perubahan perilaku mereka. Berikut adalah beberapa cara efektif untuk mengurangi stres pada anak.

Tips Mengatasi Stress pada Anak

1. Menjadi teman. Setiap anak membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Orang tua harus menjadi teman setia, yang selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Berikan solusi atau dukungan yang bisa meningkatkan percaya diri mereka.

2. Tidur nyenyak adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres. Seorang anak membutuhkan minimal 9-10 jam untuk tidur. Hati-hati ! Kurang tidur pada anak dapat menyebabkan masalah psikologis dan fisik yang serius.

3. Memasak bersama merupakan solusi terbaik untuk mengurangi stres pada anak. Buatlah mereka bergerak dan tertawa bersama Anda. Yang terpenting adalah biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan.

4. Bebas dari rutinitas yang membosankan. Anak juga membutuhkan waktu untuk berlibur dari rutinitas mereka setiap hari, seperti mengerjakan PR, ikut les tambahan, dan belajar kelompok. Mungkin Anda bisa merencanakan sebuah piknik dadakan untuk memberi mereka kejutan.

5. Setiap anak selalu menyukai hadiah. Apa pun itu bentuknya, mereka pasti akan senang. Anda bisa membeli sebuah hadiah kecil untuk menyenangkan hati mereka. Selama beberapa saat mereka akan melupakan segalanya dan menikmati hadiah baru itu.

6. Jangan membebani anak dengan masalah yang sedang dihadapi orang tua. Tetapi katakanlah kepada mereka tujuan hidup keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dengan sikap yang menyenangkan. Berilah pujian pada anak ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan jangan lupa untuk memberikan pelukan dan ciuman.

7. Gunakanlah humor sebagai buffer terhadap perasaan-perasaan dan situasi yang kurang baik. Anak yang mempelajari humor akan lebih baik untuk menjaga segala sesuatu dalam persepsi.

8. Jangan memberikan beban yang berlebihan kepada anak dengan aktivitas dan tanggung jawab di luar sekolah. Biarkan anak-anak untuk belajar mengatur waktu mereka dengan baik. Jangan meminta mereka untuk selalu menjadi nomor satu dalam segala hal.

9. Berikanlah contoh dan teladan yang baik kepada mereka sehingga mereka akan meniru tingkah laku orang tuanya. Tunjukkan kepada mereka keahlian untuk mengontrol pengendalian diri dan keahlian untuk mengendalikan stress. Dengan melihat hal ini akan memberikan keuntungan bagi mereka karena nantinya mereka akan mampu mengendalikan stress mereka secara baik.

Bagaimanapun juga, stress pada anak sangatlah beragam, sehingga cara pencegahan dan penanggulangannya harus disesuaikan dengan penyebabnya. Orang tua yang baik dan bijak hendaknya selalu belajar dan mencari referensi untuk mencegah stress yang berlarut-larut pada anak. Stress yang berlarut-larut akan merusak keprbadian anak. Sungguh suatu tindakan yang bijak dari orang tua, jika mengambil tindakan yang tepat sedini mungkin, untuk mencegah dan menanggulagi stress pada anak.

Salah satu sumber stres anak memang datang dari kita para orang tua. Stress pada orang tua berdampak pada anak. Kita harus dengan cepat membereskan masalah yang menyebabkan stress tersebut. Saat tidak ada jalan keluar lagi atas masalah kita yang berat dan semua cara sudah kita coba, tetapi tidak membuahkan hasil, serahkanlah semuanya itu kepada Tuhan sebagai jalan terakhir. Biarlah apa yang Tuhan rencanakan atas hidup kita itu yang terjadi. Kita percaya rencana Tuhan itu indah pada waktunya.

Jika kita sudah mengetahui  apa yang menyebabakan anak menjadi stress tentu langkah terbaik harus kita lakukan. Cegah penyebab stres. Jika Anda mengetahui situasi tertentu bisa menyebabkan stres, carilah kemungkinan untuk mengubah situasinya. Misalnya, jika pemicu stres pada anak adalah karena terlalu banyak kegiatan sepulang sekolah, atur kembali jadwal kegiatan anak. Kurangi kegiatan yang kurang diminati anak. Berikan waktu yang cukup untuk anak bermain dan beristirahat.

Pastikan Anda selalu ada untuk anak. Ada tipe anak yang tidak suka mengungkapkan kegelisahan. Tidak masalah. Yang terpenting anak tahu Anda akan selalu ada dan siap membantu kapan pun dibutuhkan. Bahkan jika anak tidak mau bicara sepatah kata pun tentang persoalan mereka, cobalah mengajak mereka melakukan kegiatan menyenangkan seperti menonton film, makan di restoran favorit, atau masaklah makanan kesukaan mereka agar suasana hati mereka lebih baik. Bukankah menyenangkan ketika tahu kehadiran Anda sangat berarti bagi anak ?

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan