Selama Ramadhan dan Jelang Lebaran, Waspada Daging Oplosan !!

Di bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, biasanya permintaan terhadap daging ayam dan sapi akan meningkat. Hal ini memicu banyaknya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, memanfaatkan situasi. Demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tidak jarang oknum ini mengoplos dengan daging yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. 
Diberitakan Tribunnews.com, menurut Kasie Pengawasan dan Pengendalian Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, Panghutan Nahot Rabu (2/7/2014) mengatakan bahwa, banyak warga tertipu dengan para penjual di pasar tradisional maupun supermarket. Biasanya banyak penjual yang iseng mengoplos daging tersebut seminggu sebelum lebaran.

“Saking butuhnya akan daging tersebut banyak ibu-ibu yang tertipu karena sangat sulit dibedakan kalau dilihat secara tampilan visual,” ungkapnya.
Daging ayam tiren misalnya, banyak ibu yang tertipu ketika daging telah diberi bumbu kuning oleh penjual. Biasanya para penjual ayam bumbu kuning ini berjualan langsung menghampiri pemukiman warga dengan menggunakan sepeda maupun motor dan ada box di dalamnya.
“Kalau sudah diberi bumbu gitu agak susah ngebedainnya, tetapi mudah ditebak karena harganya murah, per potong cuma dijual 2.500 – 3.000,” ungkapnya.

waspada daging oplosan
img from yahoo.com

Kejadian ini sudah seringkali ia temui di lapangan, hanya saja belum pernah mengungkap kasus besar. 

“Karena masyarakat enggak pernah laporan kalau untuk penjual ayam mati tersebut. Padahal pewarnanya itu menggunakan pewarna tekstil kan berbahaya kalau dikonsumsi,” katanya.

Selama Ramadhan dan Jelang Lebaran, Waspada Daging Oplosan !!
Sedangkan untuk daging sapi yang dicampur dengan daging babi hutan/celeng, juga sering ditemukan ketika menjelang lebaran seperti ini. Pihaknya telah kerap kali menemukan di beberapa pasar tradisional, pedagang yang iseng mencampur daging sapi dengan daging celeng.
  
“Ini mudah membedakannya, kalau ada ember di bawah dagingnya, jelas itu dicampur dengan daging celeng. Daging celeng tersebut, dicampur dengan darah sapi yang ada di ember tersebut,” ujar Panghutan kepada Warta Kota, Rabu (2/7/2014).
Modus pelaku, lanjut Panghutan, biasanya memberikan daging yang digantung hanya seperempat. Kemudian digabungkan dengan daging celeng yang ada diember tersebut. Untuk daging babi peliharaan biasanya banyak beredar di supermarket-supermarket.
“Biasanya masyarakat tertipu karena dikemas dalam stereofoam, serta sudah beku. Jadi susah dibedakan, pembeli juga enggak bisa megang, tapi biasanya daging babi peliharaan biasanya pucat,” katanya.
Sementara itu, terkait pengawasan terhadap daging dan ikan. Pihaknya sudah rutin melaksanakan, bukan hanya selama ramadhan tetapi hari biasa lainnya juga sudah kami lakukan pengawasan.
“Hanya saja selama ramadhan ini pengawasannya lebih esktra. Kami mantau keliling pasar swalayan dengan mengambil samplenya untuk dibawa ke lab kami,” tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke warga di kelurahan-kelurahan. “Kami melakukan sosialisasi seminggu sebelum lebaran kemarin, yakni 20-27 Juni. Dalam sosialisasi ini kami beritahu, gimana membedakan daging celeng, babi, dan sapi, lewat proses perebusan,” katanya.
Sementara itu, Kasie Peternakan Rahmat Manendar mengatakan, daging celeng itu didapat dari wilayah Jambi, Palembang dan Bengkulu. “Biasanya hasil dari berburu di wilayah tersebut. Harga daging celeng dari mereka dengan kualitas nomor satu 28 ribu rupiah per kg,” ujarnya.
Kemudian lanjut Rahmat, dijual para pedagang bisa mencapai 60 ribu rupiah per kg. Dengan beda harga sekitar 50% tersebut, tidak heran para penjual rela mengoplos daging sapi dengan daging celeng. “Mereka mendapat keuntungan 5000 ribu rupiah per kilogramnya kalau mengoplos daging celeng dengan daging sapi. Ketimbang hanya menjual daging sapi saja yang untungnya hanya tipis,” tuturnya. (sumber)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan