Modal Rp 12000 menjadi US$ 21,000

Modal Rp 12000 menjadi US$ 21,000 – Saya yakin sekali, semua dari kita tentu mengenal nama Hatta Rajasa. Ya, petinggi Muhammadiyah dan juga Menteri Koordinator bidang Perekonomian ini bercerita tentang kisahnya menjadi seorang pengusaha, sebelum akhirnya ia berkarir di pemerintahan. Awalnya, Hatta Rajasa adalah seorang pengusaha di bidang perminyakan.
Di hadapan 1.000 orang mahasiswa di Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua, Hatta mengisahkan semasa kuliah dirinya sudah bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha. Bersama 4 rekan kuliahnya, Hatta membuat perusahaan kecil bernamakan CV Bina Patra Jaya.

“Belum tamat dari ITB, karena uang kiriman ayah saya Rp 12.000 hanya cukup untuk 2 minggu. Sebelum selesai saya bikin perusahaan, empat orang. Mau buat saja nggak punya uang, pinjem uang Rp 12.000, mau bikin CV, namanya CV Bina Patra Jaya. Dari CV itu saya bertekad saya harus berhasil,” kata Hatta pada saat memberikan kuliah umum di Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua, Sabtu (23/11/2013).

Modal Rp 12000 menjadi US$ 21,000
Setelah itu, Hatta bersama rekannya bertolak ke Jakarta untuk mencari rekan bisnis yang menggunakan jasanya. Berbulan-bulan mereka mencari pekerjaan namun hasilnya nihil, hingga salah seorang rekan Hatta hampir putus asa dan memutuskan untuk menyerah.

“Hampir putus asa, ketika itu sahabat saya berkata, sudah lah kita cari kerja saja. Saya katakan jangan, tunggu 1 bulan lagi,” katanya.

Akhirnya, setelah mencari-cari rekan bisnis Hatta bertemu dengan seorang Doktor bernama Rahmat Sudibyo yang memberikan mereka pekerjaan. Hatta bersama rekan-rekannya diberikan setumpuk dokumen pekerjana yang harus selesai dalam waktu 3 bulan.

“Dalam dua bulan kami selesaikan. Kami mengontrak di Rawamangun, dua bulan kami kerjakan, pekerjaan itu selesai. Kami serahkan, diperiksa, dia bilang pekerjaan ini bagus,” kisahnya.

Alangkah terkejutnya Hatta bersama teman-temannya saat mengetahui bayaran atas pekerjaannya tersebut. Mereka diberi bayaran US$ 21,000 atas pekerjaannya tersebut.

“Mau pingsan kami dengar itu. Padahal pendapatan cuma Rp 12.000 dari orang tua. Kalau seandainya kami memutuskan untuk jadi pekerja, berhenti saja. Kalau kami gampang menyerah, kalau kita tidak melihat ada peluang. Maka tidak akan pernah terjadi yang namanya perubahan jadi pengusaha,” lanjutnya.

Para mahasiswa dan tamu undangan yang hadir tampak antusias mendengar kisah Hatta. Sesekali mereka bertepuk tangan dan tertawa karena cerita Hatta dibumbui humor.

Tak berhenti di situ, Hatta mengungkapkan, Direktur Utama Bapindo pada saat itu, Alm Kunto Aji memberikan pinjaman sebesar US$ 6 juta kepada Hatta dan teman-temannya. Uang itu untuk mengembangkan usaha mereka di bidang perminyakan.

“Pake dasi saja belum bisa, tapi mereka percaya karena anak-anak ini bisa diberi kepercayaan. US$ 6 juta kita lunasi satu setengah tahun,” katanya.

Dari cerita tersebut, Hatta ingin berpesan kepada generasi muda khususnya mahasiswa agar menjadi pengusaha. Karena peluang menjadi pengusaha sangatlah besar.

“Yang ingin saya sampaikan adalah jadilah pengusaha tangguh yang siap jatuh bangun, tidak gampang menyerah, dikasih pekerjaan diselesaikan, dan percaya diri. Modalnya cuma itu, tidak ada modal apa-apa,” 

Demikian kata Hatta disambut riuh tepuk tangan seribuan mahasiswa Uncen dan tamu undangan yang hadir. (finance.detik.com)
  • Insya Allah Sob saya akan menjadi pengusaha tangguh yang siap jatuh bangun, saat ini saya sudah Jatuh bangun dalam membangun ke 6 website saya….

    • Tetap semangat mas … jatuh dalam bisnis itu biasa, yang penting, apakah kita bisa bangun lagi atau tidak ? Betul tidak mas .. ?

  • luar bisa pak Hatta, betul2 berjiwa pengusaha.., patut diteladani! *smile

  • memang berjiwa pengusaha tuh pak hatta. kalau mau berhasil jangan sampai menyerah. bgitu kan mas..hehehe

    • menyerah sebelum kalah boleh gak ?

    • Betul mas .. Jangan Menyerah … jatuh boleh, asal bangun lagi ..
      @ Kang Agus .. itu mah … **** apa yaa ..?

  • nah, cerita kesuksesan berinterpreneur ini yang memang dibutuhkan saat ini. supaya para lulusan sarjana tidak berorientasi menjadi job seeker, tapi menjadi joob maker…cieee…bahasanya. tapi memang perlu banget Indonesia punya banyak usahawan, supaya rakyat menjadi mandiri, bukan tergantung ke orang lain…
    * meyakinkan sekali, tapi kenapa suami masih buruh juga…belum beralih profesi jadi pengusaha?—

  • pasti banyak bonyoknya juga ya mas..mungkin tidak diceritakan sama beliau..heheh
    tapi jiwa, semganta dan aksinya itu yang perlu di teladani

  • mampir lg pak 🙂

  • sekarang jadi menteri
    bisa jadi modal buat ngebebasin anaknya dari jerat hukum…
    *keren lah…

    • Wuihh… Kang Rawin akhirnya kesini juga … diconto yang baiknya aja Kang …