Membuka Pintu Maaf

Membuka Pintu Maaf – Sungguh mulia mereka yang bersabar dan saling memaafkan, selamat hari lebaran dan tebarlah kebaikan. Sebentar lagi, kita merayakan hari raya Idul Fitri. Nah, menuju kesucian yang hakiki tidak lengkap rasanya, kalau kita belum memaafkan dan dimaafkan. Kami segenap tim MASASHA, ingin mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faizin, dan di momen yang istimewa ini tidak hanya ketupat dan lontong opor yang terhidang di meja, namun yang terutama ialah kesiapan hati untuk memberi maaf, baik dari yang tua kepada yang muda atau sebaliknya. Sungguh …, hati akan terasa damai jika maaf yang tulus terucap dari hati, membuka pintu maaf.

Bersediakah Membuka Pintu Maaf ?

Aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tapi tak kudengar jawab dari balik pintu itu. Entah, apakah kamu sedang  tak berada di sana, ataukah memang berat bagimu membukakan pintu untukku.

Memang, kesalahan dan khilafku sangat banyak. Terlalu banyak malah.

Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf manusia. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam oleh sang pemilik hati. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.

Sekali lagi aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tak lama kemudian kudengar langkah-langkah kecilmu mendekati pintu ini. Tapi hanya mendekat. Tanpa kudengar jawaban salam.  Tanpa membuka pintu itu sedikit saja. Itu memang hakmu. Karna hanya dirimu seorang yang memiliki kunci kelapangan dan keikhlasan untuk membukanya dari dalam sana.“Aku tahu kamu ada di balik pintu ini,”, aku mulai bicara, “Dan aku tahu kesalahan dan kekhilafanku sangat banyak. Terlalu banyak. Baik yang kusadari atau tidak, baik yang kusengaja ataupun tidak.”

Aku bisa mendengar napas yang mendesah di balik pintu ini. Tapi masih tanpa kata-kata.

Aku tahu, ketika mendengar suaraku, kamu akan kembali teringat setiap kata-kata  yang tajam, argumentasi yang menantang, kritikan yang pahit, dan canda yang menggores luka.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti menatap mataku, kamu kembali akan teringat setiap pandangan sinis saat kamu memerlukan saran, setiap tatap acuh saat kamu butuh tempat berbagi, atau setiap sorot curiga saat kamu butuh kepercayaan.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti melihat wajahku, kamu juga kembali akan teringat saat-saat ikatan kita merapuh, saat keakraban kita terserak, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan malah melukai, saat nasehat justru menyinggung perasaan, saat sapaan terasa hambar, saat senyum malah menggores hati”. “Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf dari dirimu. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam olehmu. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.”

Ini yang ketiga kalinya aku mengetuk pintu hatimu dan mengucapkan salam untukmu. Aku telah mengakui kesalahanku dari balik pintu hatimu. Dan aku tahu kamu dapat mendengar dengan jelas apa yang telah kuakui.Aku menghela nafas panjang. Hanya satu kalimat terakhir yang belum kuucapkan. Kalimat yang mengandung kata yang paling berat untuk dikatakan kecuali bagi orang-orang yang memiliki kesadaran dan ketulusan.

“MAAFKANLAH AKU…”

Perlahan pintu itu terbuka. Dan aku dapat melihat senyum kelapangan dan keikhlasan dari wajahmu. Lega rasanya. Benar juga. Kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, yang satu bertuliskan “akuilah kesalahanmu”, dan sisi yang lain berukir kalimat “maafkanlah saudaramu yang bersalah.

“Terimakasih karna telah memaafkanku. Terimakasih untuk persaudaraan yang manis ini. Tapi maaf sebelumnya. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Masih ada ribuan pintu lagi yang harus kuketuk. Atau mungkin pintu yang memang tak berbilang yang seharusnya kuketuk juga. “Sekali lagi terimakasih.

Salah itu sifat yang manusiawi sedang maaf adalah sifat Illahi. Itulah sebabnya, tidak mudah bagi manusia untuk meniru dan apalagi mencapai kata maaf, meminta dan memberi maaf, sebab itu adalah sifat Illahi. Pintu maaf itu kecil, sempit, rendah, perlu membungkuk (merendahkan tubuh) untuk memasukinya. Berapa banyak dari kita yang bersedia membungkuk merendahkan tubuh-badan ?

Membuka Pintu Maaf

Ya. Mengapa kata ‘maaf’ yang hanya terdiri dari empat huruf tersebut begitu sulit untuk bagi kita. Padahal Allah saja yang merupakan pemilik sah alam semesta ini beserta seluruh makhluk penghuninya, begitu mudah memberi maaf pada makhluknya yang berbuat dosa. Kalau Tuhan saja sebagai pencipta dan pemilik makhluk selalu membuka pintu maafnya, lantas mengapa manusia yang juga merupakan salah satu makhluk Tuhan begitu sulit meminta maaf dan memberi maaf ? Lalu, kenapa sulit memaafkan ?

Pertama. Seseorang yang mengalami derita batin karena telah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan atau tidak adil dari orang lain, akan membangun dinding sikap bermusuhan. Adapun bentuk dinding sikap bermusuhan tersebut diwujudkan dengan menjaga jarak, memutuskan rantai pertemanan, dan menutup/mengurangi akses komunikasi dengan orang yang telah menghadirkan luka batin, dengan alasan, untuk mempertahankan posisi, integritas dan eksistensi di depan orang lain, kestabilan emosi atau nama baik.

Kedua. Memaafkan cenderung dikonotasikan sebagai sebuah tindakan berani untuk melupakan atau mengingkari adanya perbuatan salah yang telah dilakukan orang lain. Bagi sejumlah orang, melupakan begitu saja suatu perbuatan atau pernyataan yang membuat diri ini merasakan hati yang terluka, bukanlah sebuah keharusan moral, bukanlah sebuah tindakan fair, dan tidak otomatis menyembuhkan derita yang telah dihadirkan orang lain tersebut.

Ketiga. Karena amarah telah menciptakan dendam dan upaya-upaya protektif diri (seperti yang disebutkan pada point pertama di atas), di mana keadaan itu lebih mendominasi akal serta alam pikiran. Dalam hal ini, meskipun seseorang mengerti, memahami serta merasakan indahnya makna kasih, akan tetapi, oleh karena adanya rasa sakit lebih melingkupi hati dan perasaan, seseorang tersebut tidak memperdulikan adanya kasih, sehingga yang putih dapat menjadi hitam, dan yang hitam, dianggap lebih layak menjadi putih. Secara tidak langsung, seseorang tersebut telah menambahkan atau mengganti literatur makna kasih yang sesungguhnya.

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

“Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku”.

Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :

“Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku”.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?”. Sambil tersenyum temannya menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin.”

Memaafkan orang lain tak semudah kelihatannya. Kadang, tangan telah berjabat, bibir telah mengatakan “Aku sudah memaafkanmu,” tetapi bagaimana dengan hati kecil Anda, apakah Anda telah memaafkan orang lain dengan tulus ? Apakah Anda sudah merelakannya dan tidak akan mengungkit hal itu di kemudian hari ?

Maaf. Sebuah kata yang terdiri dari empat huruf. Singkat, tetapi susah untuk dipraktekkan ketika tak ada ketulusan di dalamnya. Padahal kata maaf bisa menjadi kata-kata yang ajaib dan memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat jika hati kita bersih dan tulus mau mengucapkannya dan mau memberikannya.

Bagaimana kalau kita membuka pintu maaf ?

  1. Lakukan Untuk Diri Anda. Sesungguhnya, memaafkan orang lain tak hanya melegakan orang lain yang telah berbuat salah pada Anda, tetapi lebih kepada diri Anda sendiri. Anda yang akan merasa lega. Anda yang akan merasakan dampak baiknya untuk kesehatan. Anda yang pada akhirnya akan tenang dan bahagia. Karena dendam dan rasa kesal yang ada di hati telah hilang.
  2. Berpikir Positif dan Sabar. Tidak perlu menduga-duga bahwa memaafkan orang lain akan membuat Anda terlihat lemah. Lupakan anggapan bahwa memaafkan kesalahan orang lain hanya menjatuhkan harga diri Anda. Itu semua tidak benar. Berani memaafkan orang lain, berarti Anda menghargai diri Anda sendiri. Tarik lengkung senyum Anda, dan lakukan !
  3. Posisikan Diri Anda di Posisinya. Seringkali kita menghakimi orang lain karena kita tidak pernah merasakan posisinya. Coba pejamkan mata Anda, dan buat diri Anda ada di dalam posisinya. Biasanya, akan muncul pengertian mengapa orang tersebut sampai hati membuat Anda kesal. Kalaupun tidak berhasil, jangan menghakiminya. Ingat, setiap manusia pada dasarnya tak luput dari kesalahan, Andapun bisa melakukan kesalahan yang sama.
  4. Ungkapkan Isi Hati Anda. Jika Anda memaafkannya dan berharap dia tidak akan melakukan hal yang sama di lain waktu. Katakan saja apa yang mengganjal hati Anda selama ini mengenai kelakuannya, atau tutur katanya, atau hal apapun yang sekiranya ingin Anda sampaikan. Tidak masalah, hal ini akan membantu dia mengerti bahwa tindakannya tidak menyenangkan Anda. Lakukan hal ini dengan tutur kata lembut dan empat mata.
  5. Lupakan Siapa Yang Salah, Siapa Yang Benar. Ego sering mengalahkan hati. Akan ada perdebatan mana yang benar, mana yang salah saat Anda harus memaafkan orang lain. Setiap orang seringkali merasa benar, dan dia yang salah. Coba lupakan hal ini, tak ada manusia yang sempurna. Semua orang bisa salah, semua orang bisa bertindak keliru. Coba bayangkan, Anda pasti lega jika orang lain memaafkan Anda, jadi lakukanlah hal yang sama pada orang lain.

Ada seorang teman, yang hidupnya, sepertinya tidak pernah susah, selalu riang, seolah-olah dia tidak pernah punya masalah dengan orang lain. Suatu kali saya bertanya, memang kamu gak pernah marah sama orang ? Pernah dong … Tapi aku pakai teori ABC .. Ambil yang baik, Buang yang Buruk, Ciptakan yang baru. Hidup kan Cuma sekali …. gitu aja kok repot. Tuhan tidak menginginkan kita sebagai pendendam. Kita dibentuk sesuai rupa Allah, yang Maha Mengampuni. Adakah dampak buruk bagi kita jika kita tidak memaafkan ? atau, adakah batas dalam memaafkan ?

Tuhan tidak akan mengampuni dosa kita, kalau kita tidak mengampuni orang lain. Dan kata maaf itu tidak hanya dibibir saja, tetapi harus tulus iklas, dari hati. Kita manusia setiap hari cenderung untuk berbuat dosa. Tuhan tidak pernah jenuh untuk mengampuni kita, hamba-Nya yang bertobat. Kita harus belajar untuk mampu berbuat seperti itu juga. Dendam dan sikap benci lama kelamaan dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi diri kita, dan hal itu tentu tidak kita inginkan. Apabila ada di antara anda yang masih belum mengampuni orang yang menyakiti anda, berdoalah. Buka pintu hati anda, berikan maaf secara tulus, dan minta bantuan Tuhan untuk bersama2 dalam proses maaf itu, supaya anda dikuatkan. Sebuah ketulusan, meskipun terkadang berat, bahkan mahal harganya, pasti dihargai berlipat kali oleh Tuhan. Ingatlah Tuhan menguji hati. Dia tidak akan meninggalkan kita sendirian dalam sebuah usaha tulus untuk mengampuni. Kekuatan dan suka cita, damai sejahtera akan terus melimpahi kehidupan anda.

Jika meminta maaf adalah perbuatan mulia, tentu saja memberi maaf akan lebih mulia lagi. Sangat sulit memang jika hati sudah kecewa karena tersakiti, apalagi jika dendam, iri hati dan dengki telah begitu membara. Tapi ingat, sulit bukan berarti tidak bisa. Jika hati bersih dan tulus, kemudian ada niat dan keinginan yang kuat untuk member maaf pasti bisa. Tuhan saja, yang sering dinistakan dan dilupakan oleh makhluknya bisa membuka pintu maaf selebar-lebarnya, apalagi kita, manusia yang hanya merupakan salah satu makhluk Tuhan.

Memberi maaf juga akan membuat kita terlepas dari segala macam pikiran buruk yang akan menyiksa diri kita sendiri. Memberi maaf juga akan mampu menghilangkan sifat dendam yang justru akan selalu menyakiti hati kita.

Terasa berat rasanya kata-kata maaf terucap dengan lancar dari mulut. Tuhan saja mau memaafkan kesalahan kita, kenapa kita sulit memaafkan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita ? Dengan sulit mengungkapkan kesediaan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain, apakah kita ingin menghadirkan otoritas yang sama dengan Tuhan, yaitu menjadi pribadi yang berhak mengampuni serta menghakimi sesama manusia ?

Ernest Miller Hemingway  adalah seorang novelis, pengarang cerita pendek dan jurnalis Amerika. Dalam salah satu cerita pendek, yang berjudul “The Capital of The World” (di dalam buku: “The Complete Short Stories of Ernest Hemingway”) – secara singkat menceritakan kisah tentang seorang ayah yang tinggal di Spanyol bersama anaknya laki-laki yang masih remaja, yang bernama Paco, yang merupakan nama kecil dari Fransisco. Paco adalah nama yang populer di Spanyol. Namun terjadi kesalahpahaman dan ketegangan dalam hubungan antara ayah dengan anaknya itu, yang membuat si anak remaja itu memberontak dan lari dari rumah. Beberapa hari kemudian, sang ayah menyesal, lalu mulai mencari anaknya yang lari dari rumah. Perjalanan ke sana ke mari untuk mencari Paco, anaknya, tidak juga membuahkan hasil. Dan tercetuslah ide dari sang ayah, sebagai usahanya yang terakhir, untuk memasang iklan di surat kabar Madrid, El Liberal. Iklan singkatnya berbunyi: “PACO MEET ME AT HOTEL MONTANA NOON TUESDAY. ALL IS FORGIVEN. PAPA.” (“Paco segera temui saya Selasa sore di Hotel Montana. Semuanya telah dimaafkan. PAPA.”)

Hal yang luar biasa terjadi keesokan harinya, banyak yang merespon mendatangi Hotel Montana, ada 800 orang “Paco” yang semua ingin dimaafkan. Nampaknya banyak “PACO-PACO” di seluruh dunia yang ingin dimaafkan. Tidak seorangpun dari kita dapat benar-benar bebas tanpa pengampunan. Bagaimana agar tidak terasa sulit untuk memaafkan orang lain ? Well, konsepsi pertama yang harus kita ingat adalah : tindakan memaafkan orang lain merupakan bagian dari menyatakan kasih, yaitu kepada orang yang telah kita anggap musuh atau orang yang telah kita anggap bersikap bermusuhan dengan kita. Artinya, kita telah menjalankan perintah Tuhan, untuk menyatakan kasih kepada semua orang, yaitu menyatakan kasih kepada orang yang telah membuat hati kita terluka, dengan memaafkannya.

Memaafkan memang sama artinya kita harus bisa melupakan dan tidak lagi mengingat-ingat kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain pada kita.Mungkin kita membutuhkan waktu untuk melakukannya. Namun tidak ada salahnya, kalau kita memikirkannya untuk tidak menunda-nunda melakukannya. Awalnya memang tidak mudah, karena sisi kemanusiaan kita yang dilingkupi oleh rasa benci dan amarah, akan cepat menolak untuk memaafkan. Namun, apabila kita segera menyadari, bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu perlu dan harus, itu sama artinya, kita telah mengurangi 2 masalah : menghapus rasa benci dalam diri kita, serta memperbaiki hubungan yang retak dengan orang lain.

Lalu mengapa kita harus melakukannya ?  Jawabannya sederhana : Sia-sia saja kita percaya pada Tuhan kalau kita masih menyimpan dendam di dalam hati kita dan membiarkan diri kita memendam amarah yang terpicu oleh kebencian atau rasa tidak senang karena orang lain telah membuat hati kita terluka, karena Tuhan tidak menentukan kita hidup dengan cara demikian. Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk minta maaf, kembali ke fitrah, tak perlu malu atau gengsi. Ketika kita membuka pintu maaf maka segala beban yang menyesakkan dada pun terangkat. Selamat Idul Fitri. Minal Aidzin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.