Cara Cegah Kejahatan yang Libatkan Anak

Cara Cegah Kejahatan yang Libatkan Anak – Ada banyak terjadi kejahatan yang melibatkan anak sebagai korban maupun pelaku. Dan itu semakin marak dalam beberapa tahun terakhir ini. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, pada rentang antara 2010 sampai 2014, terdapat lebih dari 21,8 juta kasus kejahatan pada anak. Lebih memprihatinkan, 58 persen di antaranya adalah kekerasan seksual terhadap anak.

Salah satu pemicu begitu maraknya tindak kejahatan terhadap anak adalah minimnya pengetahuan orang tua dalam mendidik anak. Misalnya kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi di Bengkulu Selatan, Lampung Timur, Tangerang, Bogor, dan tempat-tempat lain di tanah air.

Cegah Kejahatan yang Libatkan Anak

Aktivitas kerja orang tua yang begitu padat serta derasnya informasi media dan digital, membuat anak-anak makin membutuhkan berinteraksi dengan orang tuanya sendiri. Saat-saat berkumpul bersama, diskusi di meja makan hingga dongeng sebelum tidur, saat ini telah menjadi sesuatu hal yang langka, karena berbagai alasan. Mulai dari kesibukan kerja, kemacetan, dan faktor lelahnya orang tua.

Asti Kleinsteuber, seorang pengamat sosial dan juga penulis buku mengatakan, bahwa dasar kuat dalam membangun karakter anak, diawali di dalam rumah. Orang tua harus memahami bahwa kehidupan di masa kecil tidak dapat diulang. Kecepatan dan ketepatan pendidikan karakter anak menjadi kunci keberhasilan dalam membangun generasi baru Indonesia.

Landasan pendidikan mental anak

Paling tidak, ada 18 nilai yang perlu menjadi landasan pendidikan mental anak Indonesia. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai kejujuran, cinta, keterbukaan, respek, tanggung jawab, percaya diri, keberagaman, toleransi, kedamaian, keramahan, konsisten, harga diri, disiplin, perhatian, kekerasan, peduli, budaya, dan teknologi.

Asti menilai karakter di atas sebagai nilai dasar yang membangun pribadi anak tersebut di masa depan. Baik karena pengaruh sifat, keturunan maupun lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

‚ÄúStatistik pelanggaran dan kejahatan atas dan oleh anak Indonesia beberapa tahun terakhir sudah sangat menyeramkan. Presiden Jokowi sudah saatnya mulai mengajak masyarakat mendidik anak mereka dengan baik di keluarga,” ujar Asti dalam diskusi buku seri pendidikan anak character building di Jakarta, Senin (27/6).

Kalau negara tidak segera menaruh perhatian terhadap pendidikan nilai dasar, maka akan terjadi degradasi potensi kekuatan, kemajuan, serta kualitas seorang manusia. Seperti contohnya kejahatan yang dilakukan dan melibatkan anak. Revolusi Mental yang telah dikampanyekan sejak Presiden Joko Widodo perlu lebih konkret lagi dijalankan dalam kehidupan keluarga Indonesia.

Asti melanjutkan, bahwa terlalu berfokus pada regulasi dan komunikasi pencitraan tanpa implementasi pendidikan etika di keluarga, akan menyesatkan beberapa generasi masa depan kita.