And Everything is Going Well…

And Everything is Going Well… – Masa SD, hm aku bisa membayangkan betapa polosnya diriku saat masih duduk di bangku SD. Berkata jujur, rajin belajar, belum mengenal cinta, dan bersikap apa adanya. Aku punya pengalaman yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku. Aku Maura Dewi, biasa dipanggil Maura. Aku punya 2 orang sahabat namanya Iren dan Elma. Kita bersekolah di SD Negeri Grabag 4. Iren adalah sahabat karib aku sejak kita masih berusia 3 tahun. Dulu aku sering dititipkan ke orangtuanya Iren karena ibuku harus bekerja dan tidak bisa mengawasi aku, alhasil agar aku aman dan ada yang mengawasi, aku ditipkan ke orangtuanya iren. Mereka sangat baik padaku. Elma adalah sahabatku sejak kita masih TK. Dia selalu menolong aku saat aku memerlukan bantuannya.

Saat itu aku kelas 4. Sebentar lagi aku akan melaksanakan ujian kenaikan kelas. Semua temanku mulai mengurangi kegiatanya terutama bermain dan menggunakan waktunya untuk belajar. Ujian kenaikan kelas tetaplah menjadi ‘momok’ bagi semua kalangan pelajar, tak terkecuali aku. Semua temanku belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa naik kelas, begitu juga aku. Aku tidak ingin tinggal kelas, aku ingin naik kelas dengan nilai yang baik agar aku tidak mempermalukan kedua orangtuaku. Aku ingin membuat mereka bangga padaku. Aku berencana untuk belajar bersama dengan kedua sahabatku. Saat pulang sekolah aku bertanya pada mereka.

img from weheartit.com
img from weheartit.com

“ Ren, El kita belajar bareng yuk !” tanyaku.

“ Maaf Ra, Aku nggak bisa. Soalnya ibuku sudah menyuruhku untuk ikut bimbingan belajar.” Jawab Iren.

“ Aku juga nggak bisa Ra, ibuku nggak ngijinin aku untuk belajar bareng karena ibuku khawatir kalau ujung-ujungnya kita nggak jadi belajar tapi malah bercanda terus, maaf ya Ra.” Timpal Elma.

“ Ya udah deh nggak apa-apa, Aku ngerti kok.”

“ Sekali lagi maaf ya Ra.” Balas Iren.

“ Iya iya Ren, santai aja lagi.”

Walaupun rencanaku untuk mengajak mereka belajar bersama gagal, tetapi itu tidak menyusutkan semangatku untuk tetap belajar dalam mengahadapi ujian kenaikan kelas. Malamnya aku belajar sendiri tanpa ada yang menganggu, setelah 2 jam belajar aku memutuskan untuk tidur.

Suara ayam berkokok membangunkanku. Matahari pun sudah muncul dari peraduannya, menampakkan cahayanya yang menghangatkan hati. Aku segera bergegas bangun, mandi, dan sarapan. Setelah itu aku berpamitan dengan kedua orangtua ku sekaligus untuk meminta doa restu mereka agar aku dapat mengerjakan soal ujian dengan lancar. Ibuku selalu menasehatiku agar sebelum mengerjakan soal, berdoa terlebih dahulu. Karena usaha yang keras tak akan membuahkan hasil bila tidak disertai dengan doa. Aku biasa berjalan kaki menuju sekolah, karena jarak rumahku sampai sekolah tidak terlalu jauh.

Saat aku sampai, bel sekolah berbunyi. Aku segera berlari menuju kelas, dan menuju tempat dudukku. Soal telah dibagi, aku mengerjakannya dengan tenang. Ujian kenaikan kelas berlangsung selama satu minggu.

bersambung

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan